BOGOR – Tim dari SingHealth Duke-NUS Global Health Institute (SDGHI), Singapura, melakukan kunjungan lapangan ke Pusat Kesehatan Jiwa Nasional (PKJN) RS Marzoeki Mahdi, Rabu (17/9/2025). Kunjungan ini bertujuan untuk melihat langsung bagaimana rumah sakit jiwa pertama di Indonesia ini mengembangkan layanan kesehatan jiwa berbasis komunitas.
Dalam rangka penguatan pelayanan kesehatan jiwa, khususnya di layanan primer dan komunitas, SDGHI bekerja sama dengan Direktorat Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI dan Global Health Strategies. Kegiatan ini merupakan bagian dari lokakarya digital terkait inovasi layanan kesehatan jiwa digital dan intervensi berbasis komunitas berbiaya rendah di Indonesia.
Rombongan SDGHI dipimpin oleh Dr. Anne-Claire Stona, Lead for Global Mental Health. Mereka menyoroti dua inovasi utama RS Marzoeki Mahdi, yakni program Si Opa (Strategi Optimalisasi Advokasi) dan layanan hotline 24 jam D’Patens 24. Kedua layanan tersebut menjadi contoh nyata bagaimana rumah sakit memperluas akses kesehatan jiwa ke masyarakat.
Direktur Utama PKJN RS Marzoeki Mahdi, Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf, Sp.KJ, menjelaskan bahwa konsep social prescribing telah diimplementasikan melalui berbagai program rumah sakit.
“Social prescribing itu seperti layanan hotline, outreach seperti Si Opa, hingga kegiatan terapi musik, memasak, kesenian dan kerajinan, dll. Semua itu merupakan bagian dari layanan rehabilitasi psikososial yang saat ini tidak ditanggung BPJS, namun sangat penting untuk mendukung kesehatan jiwa masyarakat,” ujarnya.
Menurut Dr. Nova, apa yang dipelajari tim SDGHI sejalan dengan program mereka terkait digital mental health dan low cost community-based mental health services, yang keduanya telah berjalan di RS Marzoeki Mahdi.
Apresiasi disampaikan Dr. Anne-Claire Stona. Ia menilai pendekatan yang dilakukan RS Marzoeki Mahdi sebagai langkah penting dalam reformasi kesehatan jiwa di Indonesia.
“Yang paling menarik adalah bagaimana rumah sakit mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa, baik melalui hotline maupun kegiatan advokasi langsung di lapangan,” katanya.
Hal senada disampaikan Professor Lee Kheng Hock, anggota tim SDGHI. Ia menilai layanan kesehatan jiwa di RS Marzoeki Mahdi mampu menjangkau masyarakat luas.
“Alih-alih hanya melayani pasien rawat inap, kalian justru mendatangi masyarakat dan meningkatkan kualitas layanan di sekitar rumah sakit. Fokus pada program outreach dan konsultasi 24 jam ini sangat mengesankan,” ujarnya.
Kunjungan ini ditutup dengan sesi diskusi dan tur lapangan, di mana tim SDGHI melihat langsung implementasi program-program berbasis masyarakat. Kedua pihak berharap kerja sama dapat terus terjalin untuk memperkuat layanan kesehatan jiwa yang inklusif, terjangkau, dan berkelanjutan. (Humas/R)