TEMPER TANTRUMS, PANDUAN UNTUK ORANG TUA
Anak-anak seringkali menampilkan perilaku menjerit, menangis, memukul, merengek, mengeluh atau mencoba melarikan diri. Dalam frekuensi, durasi dan intensitas tertentu, perilaku tersebut tergolong perilaku temper tantrum. Tantrum sebenarnya merupakan perilaku normal untuk anak usia 18 bulan sampai 4 tahun. Perilaku ini dapat membuat orang tua menjadi frustrasi, dan kadangkala menimbulkan pengalaman yang memalukan.
Terdapat beragam situasi yang menimbulkan kemunculan tantrum. Di rumah misalnya, situasi pemicu yang dapat membuka peluang munculnya tantrum adalah waktu tidur, makan, atau mandi. Di luar rumah, tantrum berpeluang muncul terutama saat berada di area public space, seperti restoran, mall, taman bermain. Tantrum biasanya akan muncul ketika anak lelah menunggu, ingin bermain sesuatu atau ingin segera pulang.
Di sekolah, pemicu tantrum umumnya adalah saat transisi dari waktu belajar ke jam istirahat, saat melakukan interaksi sosial, atau saat diberi instruksi untuk melakukan sesuatu. Pada usia 12 - 15 bulan, perilaku tantrum biasanya berupa tangisan keras dan resistant behavior secara fisik, seperti menjatuhkan diri ke lantai atau mengeraskan tubuhnya (kekakuan).
Perilaku tantrum memuncak di usia 18 - 36 bulan dengan tampilan seperti menggigit diri sendiri atau berusaha menahan napasnya sendiri. Di usia 3 tahun, seiring dengan meningkatnya kemampuan berbahasa, frekuensi tantrumnya biasanya berkurang, walaupun perilaku tersebut masih akan tetap terlihat.
Tantrum cenderung muncul saat anak tidak memiliki jadwal harian yang konsisten, ketika anak diharapkan nengubah aktivitas tiba-tiba tanpa peringatan dulu atau mereka tidak terampil dalam memenuhi harapan orang dewasa.
Cara pencegahan perilaku tantrum adalah :
1. Sediakan jadwal dan rutinitas untuk dijalani oleh anak. Bukan aturan yang kaku namun setidaknya anak paham bahwa hal-hal tertentu terjadi di waktu yang sama setiap harinya.
2. Adanya penanda dan transisi. Anak-anak perlu diingatkan akan adanya perubahan beberapa saat ke depan ketika mereka diharapkan untuk berganti aktivitas. Contoh "Setelah film ini selesai, maka itu adalah waktu untuk mandi".
3. Skill building. Anak-anak dengan perilaku tantrum biasanya tidak terampil dalam area tertentu. Contohnya anak yang menjerit dan menangis ketika tidak mampu menyusun puzzle. 2 hal yang tidak dikuasainya adalah merakit puzzle dan meminta bantuan/pertolongan. Orang tua diharapkan dapat menganalisa keterampilan apa yang mesti ditumbuhkan pada anak sehingga dapat mengurangi perilaku tantrumnya.
4. Berikan tugas yang bermakna. Tantangan tugas yang appropriate dan bermakna dapat menggantikan tugas berulang yang tidak menantang.
5. Membelajarkan anak cara mengatasi frustrasi. Apa yang harus mereka lakukan saat mengadapinya. Awasi dan latih anak tentang apa yang semestinya mereka lakukan. Contoh ajari anak untuk menyampaikan apa yang dirasakannya "ini sulit sekali dan aku rasanya mulai kesal dan butuh bantuan"
6. Berikan pilihan dan penguat. Anak yang diberi pilihan cenderung akan lebih sedikit menunjukkan perilaku tantrum karena mereka sungguh sungguh terlibat dalam aktivitas yang sudah dipilihnya sendiri.
Bagaimana jika tantrums sudah terjadi?
1. Abaikan perilakunya. Jika anak mengamuk, strategi terbaik jika memungkinkan adalah dengan mengabaikan perilakunya. Namun tetap tidak mengizinkan anak memperoleh apapun yang diinginkannya atau sesuatu yang dihindarinya. Misalnya anak mengamuk karena dilarang makan coklat dan ia berlari ke dapur untuk mengambilnya sendiri. Jika ini terjadi segera intervensi.
2. Differential reinforcement. Berikan perhatian ketika anak tidak tantrum dan minimalisir perhatian saat anak sedang tantrum. Ini akan lebih sulit dilakukan saat sedang berada di area publik. Yang bisa dilakukan adalah :
a) antisipasi sebelum terjadi tantrum dengan pengalihan atau beri reinforcement (penguat) dengan intensitas tinggi ketika anak menampilkan perilaku yang appropriate, sekecil apapun.
b) Pindahkan anak sesegera mungkin dari lokasi saat ia tantrum dan ia bisa kembali lagi saat tantrumnya selesai.
Apa yang harus dilakukan setelah episode tantrum :
1. Jangan bicarakan perilaku tantrumnya atau menegur anak. Biarkan ia tenang dan stabil kembali.
2. Pastikan untuk memperkuat perilaku appropriate selama rentang perhatian yang singkat (3 - 5 detik).
Kapan harus mencari bantuan profesional?
Jika orang tua atau guru sudah menerapkan strategi yang konsisten tapi tetap terlihat peningkatan dalam intensitas, frekuensi dan durasi dari perilaku tantrum anak, segera konsultasikan ke professional helper (psikolog klinis anak, psikolog sekolah/pendidikan atau spesialis perilaku). Perilaku tantrum yang persisten atau perilaku inappropriate lainnya, memerlukan evaluasi menyeluruh. Segera rujuk jika anak berperilaku merugikan diri sendiri atau destruktif terhadap orang lain dan properti.
Di kemudian hari, evaluasi rujukan ketika anak terlihat sangat moody, menarik diri atau tertekan. Untuk anak yang memiliki keterbatasan seperti autism, down syndrome, ADHD biasanya akan menampilkan perilaku tantrum yang lebih lama di fase masa kanak-kanaknya (lebih dari 4 tahun). Konsultasikan dengan psikolog klinis anak atau psikiater anak untuk menanganinya.
Selamat hari anak nasional.
Miranty Novia Wardhani, S.Psi
RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor