05 Juni 2026

Skizofrenia dan Perilaku Kekerasan

oleh dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ
tag
1476 x dilihat

Sebuah berita tentang orang dengan skizofrenia yang melakukan perilaku kekerasan sering kali membuat banyak orang memberikan stigma negatif terhadap gangguan jiwa berat ini.

Berdasarkan tinjauan evidence-based terbaru, anggapan bahwa semua pasien skizofrenia berbahaya atau cenderung melakukan kekerasan merupakan mitos yang perlu diluruskan.

Faktanya

  • Sebagian besar orang dengan skizofrenia tidak pernah melakukan perilaku kekerasan.
  • Justru mereka lebih sering menjadi korban kekerasan, diskriminasi, penelantaran, dan eksploitasi.
  • Risiko kekerasan hanya meningkat pada kelompok tertentu yang memiliki faktor risiko tambahan yang spesifik.

“Skizofrenia bukan sinonim dari kekerasan. Yang berbahaya bukan diagnosisnya, tetapi faktor risiko yang tidak dikenali dan tidak ditangani.”

Seberapa Besar Risiko Perilaku Kekerasan pada Skizofrenia?

Meta-analisis terbaru menunjukkan bahwa risiko perilaku kekerasan pada orang dengan skizofrenia memang lebih tinggi dibandingkan populasi umum, tetapi peningkatan tersebut tidak terjadi pada semua pasien. Risiko tertinggi ditemukan pada fase awal penyakit atau First Episode Psychosis (FEP).

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa:

  • Risiko kekerasan meningkat 4–6 kali dibandingkan populasi umum.
  • Risiko tertinggi terjadi saat episode psikotik pertama.
  • Setelah mendapatkan pengobatan yang adekuat, risiko biasanya menurun secara signifikan.

Mengapa Kekerasan Bisa Terjadi?

Faktor penyebab perilaku kekerasan pada skizofrenia bersifat multifaktorial.

1. Waham Curiga (Persecutory Delusion)

Pasien merasa:

  • Diikuti
  • Disadap
  • Diracun
  • Akan dibunuh
  • Ada yang ingin berbuat jahat

Karena merasa terancam, pasien dapat melakukan tindakan agresif sebagai bentuk “membela diri”.

Contoh:

“Saya pukul dia duluan karena saya yakin dia mau membunuh saya.”

Ini merupakan faktor klinis yang paling sering ditemukan.

2. Halusinasi Perintah (Command Hallucination)

Pasien mendengar suara yang memerintahkan untuk:

  • Menyerang orang lain
  • Membakar rumah
  • Membunuh diri
  • Melukai orang lain

Tidak semua pasien mengikuti perintah tersebut, tetapi risiko meningkat bila:

  • Pasien sangat mempercayai suara tersebut.
  • Memiliki insight (tilikan) yang buruk.
  • Tidak mendapatkan pengobatan.

3. Penyalahgunaan Zat

Ini merupakan faktor risiko yang paling konsisten ditemukan dalam berbagai penelitian.

Terutama:

  • Alkohol
  • Ganja
  • Metamfetamin (sabu)
  • Narkotika multipel

Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa penyalahgunaan zat berkontribusi lebih besar terhadap perilaku kekerasan dibandingkan diagnosis skizofrenia itu sendiri.

“Pada banyak kasus, yang membuat pasien berbahaya bukan skizofrenianya, tetapi alkohol dan narkobanya.”

4. Tidak Minum Obat (Non-Adherence)

Risiko meningkat bila pasien:

  • Menghentikan obat sendiri
  • Tidak kontrol
  • Menolak pengobatan

Akibatnya:

  • Gejala psikotik kambuh
  • Waham dan halusinasi memburuk
  • Kontrol impuls menurun

5. Impulsivitas dan Kontrol Diri yang Buruk

Beberapa pasien mengalami:

  • Sulit mengendalikan emosi
  • Mudah tersinggung
  • Cepat marah

Impulsivitas terbukti menjadi prediktor penting perilaku agresif pada psikosis dini.

6. Kurangnya Insight

Pasien tidak merasa dirinya sakit.

Akibatnya:

  • Menolak obat
  • Menolak perawatan
  • Menolak bantuan keluarga

Kurangnya insight merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan perilaku agresif.

Faktor Risiko yang Harus Diwaspadai

Risiko Tinggi

  • Riwayat kekerasan sebelumnya
  • Riwayat kriminal
  • Penyalahgunaan alkohol atau narkoba
  • Waham curiga berat
  • Halusinasi perintah
  • Tidak minum obat
  • Impulsivitas tinggi
  • Kurangnya insight
  • Putus berobat
  • First Episode Psychosis (FEP)

Tanda-Tanda Awal Perilaku Kekerasan

Perawat, keluarga, dan tenaga kesehatan perlu mengenali tahapan berikut:

Tahap 1: Agitasi Ringan

  • Gelisah
  • Mondar-mandir
  • Sulit diam
  • Tatapan tajam

Tahap 2: Eskalasi

  • Bicara keras
  • Mudah tersinggung
  • Mengepal tangan
  • Menendang benda

Tahap 3: Ancaman

  • Mengancam
  • Memaki
  • Menunjuk-nunjuk

Tahap 4: Kekerasan Fisik

  • Memukul
  • Menendang
  • Mencekik
  • Merusak barang

Faktor Protektif

Penelitian menunjukkan beberapa faktor dapat menurunkan risiko kekerasan.

1. Kepatuhan Minum Obat

Merupakan faktor protektif terkuat.

2. Dukungan Keluarga

Keluarga yang:

  • Menerima
  • Mendampingi
  • Mengingatkan minum obat

terbukti meningkatkan outcome pasien.

3. Rehabilitasi Psikososial

Meliputi:

  • Pelatihan keterampilan sosial
  • Terapi okupasi
  • Pelatihan kerja
  • Community support

4. Psikoterapi

Terutama:

  • CBT for Psychosis
  • Assertiveness Training
  • Anger Management

Terbukti membantu mengurangi agresivitas.

5. Bebas Alkohol dan Narkoba

Merupakan faktor protektif yang sangat penting.

Prinsip Penanganan Perilaku Kekerasan

Saat Risiko Masih Rendah

  • De-escalation
  • Berbicara dengan tenang
  • Jangan berdebat dengan waham
  • Jaga jarak aman
  • Berikan pilihan

Contoh:

Tidak tepat:

“Kamu salah, tidak ada yang mau membunuhmu.”

Lebih tepat:

“Saya tahu kamu merasa takut. Mari kita duduk dan bicara.”

Saat Risiko Sedang

  • Kurangi stimulus
  • Pindahkan ke tempat yang lebih tenang
  • Libatkan keluarga
  • Evaluasi kepatuhan minum obat

Saat Risiko Tinggi

  • Prioritaskan keselamatan
  • Hubungi tenaga kesehatan jiwa
  • Pertimbangkan rawat inap
  • Berikan intervensi farmakologis sesuai indikasi

Pesan Penting untuk Keluarga

Jangan hanya bertanya:

“Apakah dia punya skizofrenia?”

Tetapi tanyakan:

  • Apakah dia sedang kambuh?
  • Apakah dia minum obat?
  • Apakah ada penggunaan alkohol atau narkoba?
  • Apakah ada waham curiga atau suara perintah?

Karena faktor-faktor itulah yang paling menentukan risiko kekerasan.

Kesimpulan

  • Mayoritas pasien skizofrenia tidak melakukan kekerasan.
  • Risiko kekerasan meningkat terutama bila terdapat waham curiga berat, halusinasi perintah, penyalahgunaan zat, ketidakpatuhan minum obat, riwayat kekerasan sebelumnya, impulsivitas tinggi, dan kurangnya insight terhadap penyakit.

Pengobatan yang teratur, dukungan keluarga, rehabilitasi psikososial, serta bebas dari narkoba merupakan kunci utama pencegahan perilaku kekerasan pada skizofrenia.

Yang perlu ditakuti bukanlah orang dengan skizofrenia, melainkan skizofrenia yang tidak diobati. Dengan pengobatan yang baik, skizofrenia dapat dipulihkan. Sebaliknya, stigma hanya akan memperburuk keadaan.

 

Rujukan:

1. Lagerberg TV, Whiting D, Lichtenstein P, Fazel S. Systematic review of risk factors for violence in psychosis: 10-year update. Br J Psychiatry. 2025;226(4):e75. doi:10.1192/bjp.2025.15. Cambridge University Press & Assessment
2. Youn S, Large M, Nielssen O, Cotton SM, Killackey E, Allott K. Rates of violence during first-episode psychosis (FEP): a systematic review and meta-analysis. Schizophr Bull. 2024;50(4):757-769. doi:10.1093/schbul/sbae026. 
3. Youn S, Large M, Nielssen O, Cotton SM, Killackey E, Allott K. Risk factors of violence during first-episode psychosis: a systematic review. Trauma Violence Abuse. 2026;27(1):1-18. doi:10.1177/15248380241309297.
4. Whiting D, Fazel S. Violence in schizophrenia: triangulating the evidence on causes and prevention. World Psychiatry. 2024;23(2):233-245. doi:10.1002/wps.21171. 
5. VanDercar AH, Resnick PJ. Violence risk factors in psychiatric populations. Focus (Am Psychiatr Publ). 2026;24(1):2-9. doi:10.1176/appi.focus.20250028.

Bagikan Postingan Ini:
Chat WhatsApp