Subkomite Manajemen Risiko yang merupakan bagian dari Komite Mutu Rumah Sakit Jiwa dr. H. Marzoeki Mahdi (RSJMM) Bogor melaksanakan workshop manajemen risiko secara daring, pada hari Kamis-Jumat, 29-30 Juli 2021. Workshop ini diikuti oleh direksi serta pimpinan dan perwakilan unit kerja di lingkungan RSJMM.
Selama dua hari pelaksanaan, terdapat empat materi yang disampaikan oleh narasumber yang mengisi agenda pada workshop ini. Keempat materi tersebut adalah Overview Manajemen Risiko oleh Rudi Wijanarko, Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) oleh Sri Andayani, Hazard Vulnerability Analysis (HVA) oleh drg. Desi Dwirinah, dan Hospital Safety Index (HSI) oleh Nia Afriana.
Direktur Utama RSJMM dr. Fidiansjah dalam sambutannya menekankan kepada peserta workshop bahwa manajemen risiko harus diimplementasikan dalam setiap lini di rumah sakit. “Manajemen risiko dalam kendali mutu harus diartikan secara luas. Bukan hanya berkaitan dengan hal-hal yang menyangkut aktivitas pelayanan medik semata, bukan hanya dalam hubungan petugas kesehatan dengan pasien saja, tetapi aktivitas-aktivitas seperti administrasi pun tidak bisa terlepaskan. Tidak ada aktivitas apapun yang tidak berhubungan dengan manajemen risiko,” ujarnya.
Setelah memaparkan materinya, para narasumber memandu peserta workshop untuk menyusun tools manajemen risiko untuk tiap-tiap unit kerja, karena pengelolaan manajemen risiko rumah sakit harus dilakukan oleh unit kerja. Ketua Komite Mutu Sri Andayani mengatakan, setelah pelaksanaan workshop ini akan ada tindak lanjut untuk penyelesaian HVA dan HSI. Selain itu, FMEA juga harus bisa dilakukan oleh tiap-tiap unit kerja.
“Kalau pembuatan HVA dan HSI, itu hanya cukup satu, oleh rumah sakit. Sehingga, nanti unit-unit kerja tersebut terlibat dalam pembuatan HVA atau HSI. Tindak lanjut kita setelah workshop ini adalah rapat manajemen dengan perwakilan yaitu kepala instalasi, koordinator, dan subkoordinator untuk penyelesaian HVA dan HSI. FMEA itu menjadi suatu keharusan tiap-tiap unit kerja untuk mengelola risiko. Pada dasarnya, unit kerja itu memiliki risiko yang harus diatasi. Risiko itu sebaiknya tidak terjadi atau bahkan dihilangkan,” ungkapnya.
Sri Andayani juga menambahkan, materi yang disampaikan narasumber pada tiap-tiap sesi sudah sesuai dengan kebutuhan rumah sakit dalam upaya pencegahan risiko yang belum terjadi. “Manajemen risiko sangat luas, tools yang sudah dipaparkan (dalam workshop) memang sesuai dengan peruntukannya. Misalnya, kalau HVA lebih general ke posisi rumah sakitnya itu sendiri. HSI itu tentang bagaimana keselamatan rumah sakit. Kalau FMEA, itu risikonya belum terjadi, sehingga pengelolaan risikonya harus mumpuni untuk dipahami, dilaksanakan, dan dipantau oleh seluruh unit kerja,” tambahnya.
Workshop Manajemen Risiko ini diikuti lebih dari 80 peserta, salah satunya adalah Cilik Ratnaningrum dari Instalasi Pendidikan dan Pelatihan, yang mengapresiasi workshop ini. “Workshop-nya bagus, berjalan dengan baik dan lancar. Temanya juga menarik, karena ini menyangkut kepentingan bersama rumah sakit. Metode workshop-nya juga efisien dengan paparan dilanjutkan dengan simulasi atau latihan,” kata Cilik. *(Hukormas/R)