Selesai sudah momen Lebaran dan liburan yang penuh kehangatan, berkumpul dengan keluarga, menikmati hidangan enak, berkunjung ke tempat wisata dan merasakan suasana spiritual. Namun ada sesuatu yang berbeda yang terjadi kemudian, tidak sedikit orang justru mengalami perubahan pada suasana hatinya ketika liburan usai. Beberapa orang mengalami perasaan yang hampa, kehilangan semangat, dan juga kecemasan menghadapi rutinitas sehari harinlagi. Kondisi ini dikenal sebagai Post-Holiday Blues.
Fenomena ini bukan sekadar “perasaan biasa,” tetapi memiliki dasar psikologis yang kuat dan dapat dijelaskan melalui berbagai teori ilmiah tentang emosi, motivasi, dan adaptasi manusia.
Apa Itu Post-Holiday Blues?
Post-Holiday Blues adalah reaksi emosional sementara yang muncul segera setelah berakhirnya waktu yang menyenangkan, seperti liburan panjang. Secara psikologi, kondisi ini termasuk dalam adjustment related emotional response, yaitu respons adaptasi terhadap perubahan situasi hidup.
Saat seseorang mengalami hal ini, hal yang perlu dipahami :
- Ini bukan gangguan mental
- Ini adalah proses transisi psikologis
- Ini terjadi karena otak sedang “menyesuaikan/mengatur ulang ritme kehidupan”
Namun, jika berlangsung lama dan berat, kondisi ini bisa berkembang menjadi stres kronis atau bahkan depresi ringan.
Mekanisme Psikologis: Apa yang Terjadi di Otak dan Pikiran?
1. Reward System dan Dopamine Withdrawal
Selama liburan, otak kita berada dalam kondisi reward rich environment:
- Aktivitas menyenangkan → makan enak, berkumpul, tertawa, mengunjungi tempat wisata
- Minim tuntutan → bebas dari tekanan kerja dan lingkungan toksik
- Banyak hal baru yang dilihat dan dialami
Semua ini meningkatkan aktivitas zat kimia dopamin di otak, yaitu neurotransmitter yang berperan dalam motivasi dan rasa senang
Tapi saat liburan selesai:
- Stimulus reward berkurang drastis
- Otak mengalami dopamine withdrawal ringan
- Muncul rasa kosong, hampa, tidak bersemangat
2. Hedonic Adaptation dan Set-Point Theory
Menurut teori Hedonic Adaptation, manusia cenderung kembali ke tingkat kebahagiaan baseline setelah mengalami peningkatan sementara
Artinya:
Liburan → kebahagiaan naik
Setelah selesai → kembali ke baseline
Namun, karena kita membandingkan dengan kondisi sebelumnya (liburan), baseline terasa lebih rendah dari biasanya.
Inilah yang disebut illusion of decline (ilusi bahwa hidup jadi lebih buruk).
“Bukan hidupmu yang menurun… tapi standar kebahagiaanmu sedang naik saat berlibur.”
3. Emotional Contrast Effect
Fenomena ini menjelaskan bahwa:
Semakin tinggi puncak emosi → semakin terasa turunnya
Liburan menciptakan:
- Rasa diterima (keluarga)
- Rasa bebas (tanpa tuntutan)
- Rasa berarti (spiritualitas Lebaran)
Ketika kembali ke rutinitas:
- Tuntutan meningkat
- Interaksi lebih formal
- Tekanan kerja muncul
Kontras ini membuat rutinitas terasa “lebih berat dari biasanya,” padahal sebenarnya sama.
4. Social Comparison & Identity Threat
Lebaran adalah momen interaksi sosial
- Ditanya status, pekerjaan, pencapaian
- Melihat keberhasilan orang lain
- Terpapar media sosial yang “highlight kehidupan orang lain”
Menurut Social Comparison Theory (Festinger), manusia secara alami membandingkan diri dengan orang lain.
Jika hasilnya: Merasa tertinggal, seolah tidak cukup berhasil
Akan muncul identity threat (ancaman terhadap harga diri)
Ini memperkuat Post-Holiday Blues.
5. Role Transition Stress
Saat menjalani liburan → peran yang dimainkan adalah sebagai:
- Anak
- Saudara
- Bagian dari keluarga
Setelah liburan → kembali menjadi:
- Pekerja
- Mahasiswa
- Profesional
- Individu dengan tuntutan
Perubahan peran ini membutuhkan energi adaptasi. Menurut teori role transition, perubahan identitas sosial dapat memicu stres sementara (Ashforth)
“Kamu tidak hanya kembali kerja… kamu sedang berpindah identitas.”
Penyebab yang Memperkuat Post-Holiday Blues
1. Ekspektasi vs Realita
Semakin tinggi ekspektasi liburan:
Semakin besar potensi kekecewaan setelahnya
2. Ketidakpuasan Hidup
Liburan sering menjadi “escape” (pelarian) sementara dari stres kehidupan
Ketika kembali: Masalah lama masih ada
3. Kelelahan Fisik (Travel Fatigue)
Perjalanan jauh, kemacetan, masalah dalam perjalanan, kepadatan/keramaian orang, kurang tidur, perubahan pola makan → memengaruhi mood
4. Overstimulasi Sosial
- Terlalu banyak interaksi → kelelahan emosional (social fatigue).
- Malam sebelum kembali kerja → cemas, sulit tidur
- Emotional Drop setelah Foto Lebaran, melihat kenangan → muncul kesedihan karena sudah berlalu.
- Disengagement di Tempat Kerja
Datang kerja tapi tidak fokus, tidak punya energi
- Self-doubt setelah Pertemuan Keluarga : “Aku kok belum seperti mereka ya?”
Strategi Mengatasi Post-Holiday Blues:
1. Normalisasi Emosi (Emotional Validation)
Sadari: Ini normal ini bagian dari adaptasi
Menolak perasaan justru memperpanjang distress.
2. Gradual Re-entry (Transisi Bertahap)
Hari pertama: tugas ringan
Hindari overload
Ini membantu sistem saraf beradaptasi kembali.
3. Rebuild Dopamine secara Sehat
- Bukan dengan: Scroll berlebihan, Instant gratification
- Tapi dengan: Olahraga, aktivitas bermakna, interaksi sosial sehat, menjalankan hobi yang menyenangkan
4. Meaning Reconstruction (Makna Ulang)
Menurut Park (2010), manusia lebih tahan terhadap stres jika mampu memberi makna.
Tanya:
- Apa yang saya dapatkan dan pelajari dari Lebaran / liburan
- Nilai apa yang bisa saya bawa ke kehidupan sehari-hari?
Liburan bukan sekadar kenangan, tapi sumber makna
5. Kurangi Social Comparison
Sadari bias media sosial
Fokus pada perjalanan pribadi
6. Bangun Purpose (Tujuan Hidup)
Menurut Ryff (1989), kesejahteraan psikologis ditentukan oleh: Tujuan hidup, pertumbuhan pribadidan relasi yg bermakna
Rutinitas menjadi ringan jika punya makna.
“Liburan memberi rasa bahagia, tapi tujuan hidup memberi alasan untuk bangun setiap pagi.”
Kapan Harus Waspada?
Segera evaluasi lebih lanjut jika:
- Sedih > 2 minggu
- Kehilangan minat dan gairah yang semakin berat
- Gangguan pola tidur dan selera makan
- Tidak mampu berfungsi dan beraktivitas seperti biasa / performa menurun
Hal ini mengarah pada gejala depresi ringan.
Post-Holiday Blues mengajarkan satu hal penting:
- Kita tidak hanya mencari kebahagiaan
- Kita mencari makna, koneksi, dan rasa hidup
Liburan memperlihatkan “seperti apa hidup yang kita inginkan”
Rutinitas memberi kesempatan untuk membangunnya secara nyata
“Liburan itu jeda… tapi hidup adalah perjalanan. Jangan hanya menunggu momen bahagia, belajarlah menciptakannya setiap hari.”