"Sudah dua minggu terakhir ini aku merasa mudah lelah, malas beraktivitas dan inginnya rebahan terus. Hanya rebahan ya, karena untuk benar-benar tidur rasanya sulit sekali. Sudah lama beristirahat, tapi rasanya tidak kunjung segar. Nafsu makan pun menghilang. Rasanya hidup ini nggak ada artinya. Kadang suka kepikiran, kayaknya enak ya kalau tidur lamaaa sekali, nggak usah bangun-bangun lagi."(Annisa, 24 tahun)
Apakah ada yang salah dengan Annisa? Ya, mungkin saja saat ini Annisa sedang mengalami gangguan depresi. Depresi adalah salah satu jenis gangguan mood/suasana hati. Mood yang dominan pada depresi adalah sedih dan sulit untuk merasakan kebahagiaan. Menonton drama korea favorit, bermain game online bersama teman, atau jalan-jalan yang tadinya selalu membuat gembira dan bersemangat, akan terasa datar-datar saja.
Mengapa Annisa dapat mengalami depresi? Apabila seseorang menghadapi tekanan/beban hidup yang berat, maka keseimbangan neurotransmitter di otak akan terganggu. Neurotransmitter adalah zat kimia yang memperantarai komunikasi antar sel syaraf di otak. Apabila keseimbangannya terganggu, maka pola pikir, mood, dan pola perilaku kita pun akan ikut terganggu. Sedih, lemas, sulit tidur, tidak nafsu makan dapat muncul akibat menurunnya aktivitas serotonin, dopamin dan norepinefrin.
Lalu yang termasuk beban hidup yang berat itu seperti apa? Pada dasarnya, tidak ada suatu beban hidup yang benar-benar universal, suatu hal yang dianggap berat oleh Annisa bisa saja dianggap ringan oleh orang lain, dan juga sebaliknya. Namun, penelitian yang dilakukan oleh Holmes dan Rahe telah mengungkap apa saja beban hidup yang secara umum dianggap berat. Dari penelitian tersebut, sepuluh beban hidup terberat diantaranya adalah : 1. Pasangan meninggal dunia; 2. Bercerai; 3. Pisah rumah dengan pasangan; 4. Di penjara; 5. Keluarga inti meninggal dunia; 6. Sakit berat; 7. Menikah; 8. Dipecat; 9. Rujuk; 10. Pensiun. Ternyata pernikahan yang dianggap dapat menjadi solusi berbagai masalah, ternyata merupakan salah satu beban hidup yang cukup berat.
Apakah gangguan depresi ini berbahaya? Tentu berbahaya, karena kondisi depresi yang berat dapat memunculkan keinginan bunuh diri. Lalu mudah lelah dan sulit konsentrasi dapat membuat kinerja di tempat kerja/kuliah menurun, mengakibatkan prestasi yang menurun yang dapat berakhir dengan kehilangan pekerjaan. Selain itu, bila kondisi depresi tidak segera ditangani, sel syaraf dapat mengalami kerusakan. Secara perlahan, fungsi kognisi dan emosi penderitanya pun akan semakin menurun.
Lalu apa yang dapat dilakukan? Apabila keluhan ini sudah membuat sangat tidak nyaman, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau bahkan sudah terpikir untuk mengakhiri hidup, maka sudah menandakan harus segera konsultasi dengan dokter atau psikiater. Setelah dilakukan pemeriksaan, dan kondisi yang sedang dialami sudah terdiagnosis, maka dapat dilakukan penatalaksanaan lebih lanjut, yaitu psikoterapi dan pemberian obat.
Kenapa harus minum obat? Karena depresi memiliki faktor penyebab biologis. Yaitu terjadinya penurunan aktivitas neurotransmitter serotonin, dopamin dan norepinefrin. Jadi apabila derajat keparahan depresi sudah mencapai tingkat sedang atau berat, sudah menjadi indikasi pemberian obat. Obat untuk depresi ini tidak berisiko membuat ketergantungan dan efeknya pada ginjal dan hati cukup aman apabila digunakan sesuai aturan dari psikiater.
Selain obat apakah ada jalan lain? Untuk mempercepat kesembuhan, yang harus dilakukan adalah mengetahui inti permasalahan dan manyelesaikannya. Jangan sungkan untuk mencari pertolongan kepada profesional, karena bercerita pada orang yang salah dapat menambah masalah baru. Lakukan olahraga dan usahakan beraktivitas seperti biasa. Karena rebahan dan melamun berkepanjangan justru dapat memperburuk kondisi depresi yang sedang dialami.
Salam sehat jiwa!
Artikel oleh:
dr. Widi Primaciptadi, Sp.KJ.
Psikiater di RSJ dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor