27 April 2023

Mengenal Gangguan Kepribadian Narsisistik (Narcissistic Personality Disorder)

oleh admin
tag artikel
8567 x dilihat

Pernah bertemu dengan orang yang selalu bangga dengan dirinya dan terkesan sombong serta pamer? Atau orang yang kalau mengobrol selalu menceritakan kehebatan dan kelebihan dirinya? Orang sedang cerita tentang dirinya, eh, tiba tiba dia menyela, "Aku juga....", "Aku..." dan "Aku...", semua tentang dirinya. Ini merupakan tanda dan gejala dari sebuah gangguan jiwa yang dikenal dengan Gangguan Kepribadian Narsisistik atau Narcissistic Personality Disorder (NPD)

Gangguan Kepribadian (personality disorder) adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan adanya pikiran, sikap, dan perilaku tidak serasi dalam hal kesadaran, pengendalian impuls, persepsi, cara berpikir, dan hubungan dengan orang lain dalam jangka waktu yang lama, menetap, dan menyebabkan penderitaan serta mengganggu pekerjaan dan aktivitas sosial sehari-hari.

 

Faktor-faktor yang memengaruhi munculnya Gangguan Kepribadian

1.  Faktor biologi: Bawaan/genetik/temperamen, trauma kepala, narkoba

2.  Faktor psikologis: Pengalaman hidup, peristiwa traumatis

3.  Faktor sosial: Pola asuh, lingkungan sosial, nilai, norma, budaya, spiritual

 

Terdapat Tiga Golongan Gangguan Kepribadian

Klaster A: Gangguan kepribadian dengan karakteristik pikiran dan perilaku yang aneh dan eksentrik

1.  Gangguan Kepribadian Paranoid

2.  Gangguan Kepribadian Skizoid

3.  Gangguan Kepribadian Skizotipal

 

Klaster B: Gangguan kepribadian dengan karakteristik dramatis, emosi yang berlebihan dan pikiran perilaku yang sulit diprediksi.

1.  Gangguan Kepribadian Antisosial

2.  Gangguan Kepribadian Borderline/Ambang

3.  Gangguan Kepribadian Narsisistik

4.  Gangguan Kepribadian Histrionik

 

Klaster B: Gangguan Kepribadian dengan karakteristik cemas, pikiran dan perilaku khawatir

1.  Gangguan Kepribadian Cemas Menghindar

2.  Gangguan Kepribadian Dependen

3.  Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif

 

Tanda dan Gejala Gangguan Kepribadian Narsisistik

  • Secara berlebih merasa dirinya sangat penting (mis. melebihkan bakat atau prestasinya, mengharap dikenal sebagai orang yang superior)
  • Berpreokupasi dengan fantasi tentang sukses, kekuasaan, kehebatan, kecantikan atau kekasih ideal
  • Merasa dirinya sebagai orang “spesial” dan unik yang hanya dapat dimengerti oleh atau perlu berhubungan dengan orang lain/institusi yang spesial/berkedudukan lebih tinggi
  • Membutuhkan pemujaan berlebihan
  • Merasa dirinya “mampunyai hak istimewa” (mis. menuntut agar ia mendapat perlakuan khusus, atau orang lain harus menurut kehendaknya)
  • Dalam hubungan interpersonal bersifat eksploitatif, menggunakan orang lain untuk kepentingan dirinya
  • Kurang atau tidak mampu berempati: tidak mau mengenal atau beridentifikasi dengan perasaan atau kebutuhan orang lain
  • Sering iri hati pada orang lain, atau merasa bahwa orang lain iri hati terhadapnya
  • Bersikap sombong

 

Tanda dan gejala ini akan mengganggu fungsi kehidupan sehari hari dan juga dapat merusak relasi dengan orang lain. Apabila sudah demikian maka diagnosis NPD dapat ditegakkan

 

Terapi untuk Gangguan Kepribadian Narsisistik

1.  Psikoterapi (talk therapy)

Jenis terapi ini memiliki prinsip sebagai berikut.

  • Menyadarkan pasien bahwa dampak dari gangguan kepribadiannya menyebabkan disfungsi diri, hubungan interpersonal dan hubungan sosialnya, jadi bukan dengan cara menghakimi atau menyalahkan pasien.
  • Membantu agar sifat egosintoniknya menjadi egodistonik, perasaan nyaman dengan dirinya yang mengalami gangguan kepribadian narsisistik menjadi lebih aware dan fleksible untuk berubah
  • Jenis psikoterapi: terapi kognitif dan perilaku (CBT/cognitive behaviortherapy), terapi keluarga, psikoterapi psikodinamik, psikoanalisis

 

2.  Psikofaramaka

Terapi ini diberikan jika individu datang dengan keluhan tertentu dengan target pengobatan menghilangkan gejala yang dialami pasien, misalnya depresi, ansietas, mood swing, dll.

Orang yang mengalami Gangguan Kepribadian Narsisistik sering kali tidak menyadari bahwa dia butuh bantuan sehingga penting sekali orang sekitar untuk mendampingi, mengingatkan dan mengajaknya berkonsultasi ke profesional kesehatan jiwa. Hindari sikap menghakimi dan konfrontasi, tetap kedepankan komunikasi yang positif dan suportif serta empati.

Penulis: dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ

Bagikan Postingan Ini:
Chat WhatsApp