Terapi Modalitas merupakan terapi utama yang digunakan untuk proses keperawatan jiwa seseorang atau pasien. Terapi ini memiliki tujuan yaitu mengubah perilaku pasien dari perilaku mal adaptif menjadi perilaku yang adaptif. Agar terapi modalitas efektif diberikan kepada seorang pasien maka diperlukan pengkajian yang dalam untuk mengetahui penyebab seseorang mengalami gangguan jiwa. Selain itu, kondisi fisik,, masalah kepribadian awal, kondisi keluarga dan juga masyarakat bisa menjadi penyebab seseorang mengalami gangguan jiwa.
Maramis melakukan identifikasi penyebab dari gangguan yang bisa berasal dari kondisi fisik, kondisi psikologis atau kejiwaan dan juga masalah sosial atau lingkungan. Jika gangguan jiwa memang disebabkan karena gangguan fisik seperti keseimbangan neurotransmitter yang menjadi pengendali perilaku manusia, maka pengobatan yang bisa diberikan adalah farmakologi. Sedangkan jika gangguan jiwa disebabkan karena kondisi psikologi maka harus diatasi secara psikologi dan jika penyebabnya karena masalah lingkungan, maka bisa diatasi dengan terapi yang fokus pada manipulasi lingkungan. Dengan ini, maka berbagai macam terapi dalam keperawatan kesehatan jiwa bisa berbentuk somaterapi, terapi lingkungan dan juga psikoterapi. Terapi Modalitas terdiri dari :
1. Terapi Individu
2. Terapi Lingkungan
3. Terapi Biologis
4. Terapi Kognitif
5. Terapi Perilaku
6. Terapi Keluarga
7. Terapi Kelompok
8. Terapi Bermain
Hand hygiene atau praktik kebersihan tangan saat ini dipertimbangkan sebagai salah satu elemen kunci terpenting dalam upaya pencegahan infeksi. Praktik hand hygiene telah memiliki bukti ilmiah yang cukup bahwa apabila dilakukan dengan benar dapat secara signifikan mengurangi resiko perpindahan infeksi di fasilitas kesehatan. Hand hygiene atau praktik cuci tangan saat ini dipertimbangkan sebagai salah satu elemen kunci terpenting dalam upaya pencegahan infeksi. Praktik hand hygiene telah memiliki bukti ilmiah yang cukup bahwa apabila dilakukan dengan benar dapat secara signifikan mengurangi risiko perpindahan iinfeksi di fasilitas kesehatan.
Hand Hygiene dapat dijadikan salah satu bentuk model pembelajaran atau latihan perubahan perilaku pasien gangguan jiwa dengan melatih mengubah perilaku tidak sehat menjadi sehat. Seringnya latihan ini dilakukan dapat memberikan efek positif terhadap perbaikan kondisi yang mungkin terbiasa makan tanpa membersihkan tangan menjadi terlebih dahulu membersihkan makan, terbiasa BAK/BAB tanpa membersihkan tangan menjadi mampu membersihkan tangan setelah BAB/BAB. Dari hal sederhana melakukan kebersihan tangan dengan benar maka pasien secara sadar atau tidak menyadari telah melindungi dirinya dari kejadian infeksi selama dalam perawatan di rumah sakit.
Kegiatan Edukasi Hand Hygiene terhadap pasien gangguan jiwa di RS.dr.H. Marzoeki Mahdi Bogor telah dilakukan sejak tahun 2014 dan baru di tahun 2016 kepala Ruangan beserta stafnya kembali bersemangat untuk terus membudayakan kegiatan latihan hand hygiene bagi pasien di rawat inap dan rawat jalan setiap pagi.Hasil dari latihan setiap hari dapat memberikan kemampuan pada pasien untuk melakukan 6 benar dan 5 saat kebersihan tangan Tim IPCN pernah melakukan evaluasi terhadap beberapa ruangan yang rutin melakukan latihan kebersihan tangan bagi pasien yang dirawat. Dibawah ini adalah contoh kemampuan latihan yang dapat berkontribusi terhadap penurunan gejala gangguan jiwa :
|
Jenis Kelamin Pasien |
Pendidikan |
Jumlah Latihan |
Kemampuan 6 Benar Kebersihan Tangan |
Kemampuan Menyebutkan Tujuan dan Manfaat |
Diagnosa Keperawatan |
|
Perempuan/35 th |
SMA |
1x latihan |
3 benar |
Benar Semua |
Waham |
|
Perempuan/50 th |
SMA |
12x latihan |
6 Benar |
Benar Semua |
Halusianasi dan Isolasi |
|
Perempuan/40 th |
|
|
|
|
|
Dari Data ini dapat tergambar bahwa latihan sederhana Kebersihan tangan memberikan kontribusi besar terhadap pencegahan penyebaran infeksi dan meningkatkan proses pemulihan kondisi perilaku mal adaftif pasien menjadi adaftif. Pesan moral yang ingin disampaikan bahwa memberikan asuhan keperawatan pasien harus memandang pasien sebagai pribadi yang unik dan holistic. Perawat dituntut tidak hanya sekedar bekerja mengikuti tugas dan fungsinya serta menjalankan prosedur tindakan saja tetapi Perawat mampu belajar untuk keluar dari zona aman dan menciptakan inti dari Keperawatan yaitu Caring kepada pasien. ( Jean Watson ).
OLEH : Ns. Sri Redjeki J.
Perawat RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor