Keselamatan (safety) telah menjadi isu global termasuk juga rumah sakit. Ada lima isu penting yang terkait dengan keselamatan di rumah sakit yaitu keselamatan pasien (patient safety), keselamatan pekerja atau petugas kesehatan, keselamatan bangunan dan peralatan di rumah sakit yang bisa berdampak terhadap keselamatan pasien dan petugas, yang berdampak terhadap pencemaran lingkungan dan keselamatan rumah sakit terkait dengan kelangsungan hidup rumah sakit. Namun harus diakui kegiatan institusi rumah sakit dapat berjalan apabila ada pasien. Karena itu keselamatan pasien merupakan prioritas utama untuk dilaksanakan dan hal tersebut terkait dengan isu mutu dan citra perumahsakitan
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang keselamatan pasien, terdapat 6 sasaran keselamatan pasien salah satunya adalah pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan 2. Pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan tantangan terbesar dalam tatanan pelayanan kesehatan, dan peningkatan biaya untuk mengatasi infeksi yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan merupakan keprihatinan besar bagi pasien maupun para profesional pelayanan kesehatan. Infeksi biasanya dijumpai dalam semua bentuk pelayanan kesehatan termasuk infeksi saluran kemih, infeksi pada aliran darah, dan pneumonia (sering kali dihubungkan dengan ventilasi mekanis).
Penyakit infeksi terkait pelayanan kesehatan atau Healthcare Associated Infection (HAIs) merupakan salah satu masalah kesehatan diberbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Dalam forum Asian Pasific Economic Comitte (APEC) atau Global health Security Agenda (GHSA) penyakit infeksi terkait pelayanan kesehatan telah menjadi agenda yang dibahas. Hal ini menunjukkan bahwa HAIs yang ditimbulkan berdampak secara langsung sebagai beban ekonomi negara.Secara prinsip, kejadian HAIs sebenarnya dapat dicegah bila fasilitas pelayanan kesehatan secara konsisten melaksanakan program pencegahan dan pengendalian infeksi.
HAIs merupakan infeksi yang terjadi di rumah sakit dan menyerang pasien yang sedang dalam proses perawatan, yang tidak ditemukan dan tidak dalam masa inkubasi saat pasien masuk rumah sakit. Rumah sakit merupakan tempat untuk mencari kesembuhan namun juga merupakan sumber infeksi. Rumah sakit memiliki risiko tinggi menjadi tempat penyebaran infeksi karena populasi mikroorganisme yang tinggi. Mikroorganisme ini dapat hidup dan berkembang di lingkungan rumah sakit seperti lantai, air, udara, perabotan rumah sakit, peralatan non medis bahkan pada makanan dan peralatan medis (Caroline, Waworuntu, & Buntuan, 2016). Mutu pelayanan sebuah rumah sakit dapat dinilai melalui berbagai indikator. Salah satunya melalui upaya rumah sakit terhadap pencegahan dan pengendalian infeksi. Kejadian HAIs menyebabkan mutu pelayanan rumah sakit tidak optimal, sehingga diperlukan tindakan yang tepat untuk mencegah ataupun mengurangi angka kejadian infeksi HAIs (Zulkarnain, 2018)
Saat ini perhatian pasien, pihak asuransi, pemerintah, dan lembaga regulator terhadap isu Health Care Associated Infection (HCAI) semakin meningkat. Hal ini tidak saja disebabkan karena berbagai permasalahan seperti morbiditas, mortalitas, dan biaya perawatan, namun juga mengacu pada meningkatnya kesadaran bahwa hal-hal tersebut dapat dicegah. Dengan terjadinya penyebaran secara global infeksi multidrug resistant pada fasilitas kesehatan dan belum tersedianya ketersediaan antimikroba baru, mengharuskan untuk melihat kembali praktik dasar pencegahan infeksi, seperti praktik hand hygiene.
Kebersihan tangan saat ini dipertimbangkan sebagai salah satu elemen kunci terpenting dalam upaya pencegahan infeksi. Praktik kebersihan tangan telah memiliki bukti ilmiah yang cukup bahwa apabila dilakukan dengan benar dapat secara signifikan mengurangi risiko perpindahan infeksi di fasilitas kesehatan.
Menurut data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013, prevalensi Nasional berperilaku benar dalam cuci tangan adalah 23,2%. Secara global angka Kepatuhan Kebersihan tangan di antara petugas kesehatan dibawah 40% dan ini menjadi masalah dunia sampai saat ini. Alasan ketidakpatuhan telah dilakukan survey dengan studi yang berbeda, yaitu dikategorikan ke dalam tingkat individu, kelompok, dan kelembagaan.
Kepatuhan adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan ketertiban. Penyebab kepatuhan didapat berupa kurangnya pendidikan kebersihan tangan saat menjadi saat menjalani pendidikan di kedokteran, kurangnya umpan balik atas kinerja kepatuhan atau ketidak patuhan yang ditampilkan oleh petugas kesehatan, bekerja di unit perawatan kritis dengan alasan sibuk dan kurang waktu, kurangnya champion atau duta kebersihan tangan kompeten, dan produk hand rub yang merusak kulit merupakan alasan utama ketidakpatuhan dalam kebersihan tangan.
Data Tingkat Kepatuhan Kebersihan Tangan di RS.dr.H. Marzoeki Mahdi dibandikan dengan Ketersedian Sarana Prasarana Kebersihan tangan dapat memberikan arti bahwa Pembudayaan belum optimal dilakukan,
Hal ini menjadi tanggung jawab kita bersama dimana sebagai tenaga kesehatan apakah kita mau menjadi kontributor penyumbang infeksi atau sebagai penyelamat bagi pasien.Banyak yang dapat kita lakukan di are tempat kita bekerja untuk patuh melakukan kebersihan tangan diantaranya adalah Kampanye, Pitstop, TV Edukasi, Kipas Remaider, Lomba Dance Hand Hygiene, Pelatihan dan sebagainya.
OLEH : TIM IPCN RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor