Semua orang di jalan raya tentu akan selalu memperhatikan apa yang ada di pinggir jalan yang menarik perhatian.
Akhir-akhir ini ada sebuah billboard besar yang membuat tidak enak hati dan pikiran saat melihatnya. Di tengah jalan raya, di pinggir lampu merah, di ruang publik yang dilalui anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga lansia, terpampang sebuah banner film dengan judul besar: “Aku Harus Mati.”
Dengan visual yang menyeramkan dan nuansa dramatis, banner seperti ini mungkin dimaksudkan sebagai promosi hiburan. Namun dari sudut pandang kesehatan jiwa, pertanyaannya jauh lebih serius dan perlu kita tanyakan: Apakah pesan visual semacam ini aman bagi masyarakat?
Bagi sebagian orang, mungkin ini hanya judul film. Namun bagi individu yang sedang berada dalam kondisi depresi, keputusasaan, trauma, atau ide bunuh diri laten, paparan gambar dan narasi seperti ini dapat menjadi pemicu psikologis yang berbahaya.
Ini bukan sekadar persoalan estetika iklan. Ini adalah isu kesehatan mental publik.
Bunuh Diri: Masalah Kesehatan Masyarakat yang Nyata
Menurut data WHO, lebih dari 700.000 orang meninggal karena bunuh diri setiap tahun di seluruh dunia, sekitar 1 orang setiap 40 detik berusaha mengakhiri hidupnya. Bunuh diri termasuk penyebab kematian utama terutama pada kelompok usia muda. Angka ini menunjukkan bahwa perilaku bunuh diri bukan fenomena langka. Di sekitar kita, banyak orang yang kelihatannya baik-baik saja, tetapi sesungguhnya sedang berjuang diam-diam untuk tetap bertahan hidup. Mereka tampak tenang, tetapi di dalam pikirannya sedang terjadi peperangan yang berat.
Mengapa Banner seperti Ini Bisa Berbahaya?
Dalam psikologi suicidologi, dikenal istilah suicide contagion atau copycat suicide, yaitu perilaku bunuh diri yang dipicu oleh paparan informasi, gambar, cerita, atau pemberitaan tentang kematian.
Fenomena ini dikenal sebagai Werther Effect. Artinya, saat seseorang yang rentan secara psikologis terus-menerus terpapar pesan seperti:
- “aku harus mati”
- gambar kematian
- visual menyeramkan
- dramatisasi keputusasaan
maka pesan tersebut dapat memperkuat skema kognitif negatif yang sudah ada di dalam pikirannya. Misalnya:
“Iya ya… mungkin mati memang jalan keluarnya.” dan ia seolah-olah tidak memiliki pilihan lain.
Di titik ini, banner bukan lagi sekadar iklan. Ia berubah menjadi isyarat psikologis.
Bagaimana Mekanisme Psikologisnya?
Ada beberapa mekanisme yang dapat terjadi:
1. Priming Effect
Paparan kata atau gambar tertentu dapat mengaktifkan pikiran yang sejenis.
Judul seperti “Aku Harus Mati” dapat memicu aktivasi pikiran terkait kematian.
Pada orang sehat, mungkin efeknya kecil. Namun pada individu dengan depresi berat, ide bunuh diri, atau gangguan kecemasan, ini bisa menjadi pemicu.
2. Cognitive Reinforcement
Pada depresi, seseorang sering memiliki pikiran otomatis seperti:
- saya tidak berharga
- hidup saya selesai
- semua orang lebih baik tanpa saya
Banner dengan kalimat tersebut bisa memperkuat keyakinan maladaptif ini.
3. Emotional Suggestibility
Remaja dan individu yang sedang berada dalam distress emosional cenderung lebih sugestibel. Paparan visual dramatis meningkatkan risiko imitasi perilaku. Ini terutama berbahaya pada usia muda yang sangat mudah terpicu oleh hal visual.
Apakah Tontonan dan Bacaan Bisa Menjadi Faktor Pencetus?
Ya, dan ini sudah banyak diteliti. Literatur menunjukkan bahwa media, baik film, serial, berita, maupun konten digital dapat meningkatkan perilaku bunuh diri bila ditampilkan secara sensasional. Beberapa faktor pemicu dari tontonan dan bacaan meliputi:
- romantisasi kematian
- menggambarkan bunuh diri sebagai solusi
- pengulangan visual kematian
- narasi keputusasaan ekstrem
- identifikasi penonton dengan karakter
Semakin seseorang merasa “itu saya banget”, semakin tinggi risiko identifikasi psikologis.
Faktor Risiko Bunuh Diri yang Perlu Diperhatikan
Banner atau tontonan bukan penyebab tunggal. Biasanya menjadi pemicu pada seseorang yang sudah memiliki kerentanan seperti:
- depresi
- gangguan bipolar
- psikosis
- trauma / PTSD
- perundungan
- konflik keluarga
- masalah relasi
- kesepian
- adiksi digital
- impulsivitas
- krisis spiritual
- kehilangan pekerjaan / masalah finansial
Media menjadi pemantik pada bahan bakar yang sudah ada, yaitu situasi psikologis yang tidak baik-baik saja.
Ruang Publik Harus Ramah Psikologis
Jalan raya dan semua yang ada di sana adalah ruang bersama.
Di jalan raya ada:
- anak sekolah yang masih bertumbuh dan berkembang
- remaja yang sedang rapuh
- pasien depresi
- caregiver yang lelah
- orang yang baru kehilangan keluarga
- seseorang yang sedang merasa bersalah sangat berat
- orang yang melakukan kesalahan dan merasa menjadi beban
Karena itu, pesan di ruang publik seharusnya mempertimbangkan keamanan psikologis.
Bukan hanya menarik perhatian, tetapi juga aman bagi kesehatan mental masyarakat.
Tidak semua yang viral aman bagi jiwa. Ada judul yang menjual rasa takut, tetapi bisa melukai mereka yang sedang berjuang untuk tetap hidup. Mari bicara di ruang publik dengan hati-hati!