10 Februari 2026

Diskusi Nasional Soroti Bahaya “Gas Tertawa” dan Krisis Kesehatan Mental Anak Pascakasus NTT

oleh Humas
tag
875 x dilihat

BOGOR, 11 Februari 2026 – Lonjakan tajam risiko ide bunuh diri pada remaja menjadi alarm serius. Data penelitian PKJN RS Marzoeki Mahdi menunjukkan peningkatan signifikan dalam satu dekade terakhir. Jika sebelumnya remaja usia 13–15 tahun di DKI Jakarta dengan kategori risiko tinggi berada di angka 13,8 persen, hasil pengukuran ulang pada 2024 di Bogor dengan sampel lebih dari 2.000 responden menunjukkan angka tersebut melonjak hingga 49-51 persen.

Temuan tersebut akan menjadi salah satu fokus utama dalam webinar “Diskusi Komprehensif: Bahaya Gas Tertawa dan Batas Harapan Anak: Kasus Whip Pink dan Bunuh Diri Anak di NTT” yang digelar Jumat, 13 Februari 2026, pukul 09.00 WIB melalui Zoom Meeting.

Direktur Utama PKJN RS Marzoeki Mahdi, Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf, Sp.KJ, menegaskan bahwa kenaikan hampir tiga hingga empat kali lipat tersebut bukan sekadar angka statistik.

“Instrumen deteksi dini yang saya kembangkan saat studi doktoral di FKM UI menunjukkan 13,8 persen remaja berisiko tinggi di DKI Jakarta. Ketika kami ulang pengukuran pada 2024 di Bogor, angkanya melonjak menjadi 49–51 persen. Ini peningkatan yang sangat serius dan harus menjadi perhatian semua pihak,” ujar dr. Nova.

Menurutnya, fenomena ini selaras dengan semakin banyaknya kasus bunuh diri anak yang mencuat ke publik, bahkan disertai surat yang ditinggalkan korban, yang kemudian membuka lapisan persoalan sosial dan ekonomi di masyarakat.

“Pencegahan tidak bisa hanya dibebankan pada rumah sakit atau tenaga medis. Keluarga, teman, sekolah, dan lingkungan sekitar harus bersatu padu. Faktor risiko bunuh diri harus disosialisasikan seluas mungkin agar deteksi dan intervensi bisa dilakukan sedini mungkin,” tegasnya.

Selain kejadian bunuh diri anak di Nusa Tenggara Timur (NTT), diskusi juga akan menyoroti fenomena penyalahgunaan Whip Pink atau yang dikenal sebagai “gas tertawa” (nitrous oxide) yang kian marak di kalangan remaja.

Dokter umum dengan kepakaran adiksi, HIV, dan pengembangan life skills, dr. Ayie Sri Kartika, akan membedah dampak kesehatan dari penggunaan zat tersebut.

Dr. Nova menjelaskan, kemunculan tren ini menunjukkan pola pelarian (escapism) yang keliru dalam menghadapi tekanan hidup.

“Selalu ada kreativitas baru dalam metode pelarian. Whip Pink mungkin dianggap tidak mematikan, tetapi tetap membahayakan. Dampaknya bisa mengenai sistem saraf dan metabolisme, termasuk gangguan vitamin B12. Ini bukan problem solving, hanya pelarian sesaat,” jelasnya.

Sementara itu, Psikiater Subspesialis Anak dan Remaja, dr. Widi Primaciptadi, Sp.KJ, Subsp.A.R (K), akan mengulas bunuh diri anak dari perspektif psikiatri serta menarik pelajaran dari kasus di NTT.

Webinar ini terbuka untuk masyarakat umum dan bertujuan meningkatkan literasi kesehatan jiwa. Penyelenggara menekankan bahwa kesehatan mental tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan faktor biologis, psikologis, dan sosial yang saling memengaruhi.

Diskusi ini diharapkan menjadi ruang edukasi publik sekaligus momentum memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mencegah bunuh diri anak dan remaja. (R)

Bagikan Postingan Ini:
Chat WhatsApp