Diabetes melitus atau yang sering dikenal masyarakat sebagai penyakit gula atau kencing manis merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah. Selama ini, diabetes kerap dianggap sebagai penyakit yang lebih banyak dialami oleh orang lanjut usia.
Namun, kondisi tersebut kini mulai berubah. Diabetes, khususnya diabetes tipe 2, juga dapat ditemukan pada kelompok usia produktif. Pola makan tinggi kalori dan gula, kurang aktivitas fisik, peningkatan berat badan, serta berbagai faktor lainnya dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami diabetes.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa perubahan pola hidup, termasuk pola makan yang kurang sehat, kurang aktivitas fisik, dan berat badan berlebih, berperan dalam peningkatan risiko diabetes tipe 2.
Karena itu, diabetes bukan hanya persoalan orang tua. Mengenali faktor risiko dan gejalanya sejak dini penting dilakukan oleh siapa pun, termasuk kelompok usia muda.
Secara sederhana, tubuh membutuhkan glukosa atau gula darah sebagai salah satu sumber energi. Setelah makanan dicerna, karbohidrat akan dipecah menjadi glukosa. Hormon insulin yang diproduksi pankreas membantu glukosa masuk ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi.
Pada diabetes, proses tersebut mengalami gangguan. Tubuh dapat mengalami kekurangan produksi insulin, atau insulin tidak dapat bekerja secara optimal sehingga terjadi resistensi insulin. Akibatnya, kadar gula di dalam darah meningkat.
Diabetes merupakan penyakit kronis yang membutuhkan pengelolaan jangka panjang. Dengan pengobatan, pola makan sehat, aktivitas fisik, dan pemantauan rutin, kadar gula darah dapat dikendalikan serta risiko komplikasi dapat dikurangi.
Diabetes tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risikonya antara lain:
Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula, kalori, serta lemak jenuh secara berlebihan dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2.
Bukan berarti seseorang harus menghilangkan seluruh sumber karbohidrat atau gula dari pola makan. Yang lebih penting adalah memperhatikan kualitas makanan, jumlah, dan keseimbangan porsinya.
Kebiasaan terlalu banyak duduk atau menjalani gaya hidup sedentari dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk diabetes tipe 2.
Aktivitas fisik secara rutin membantu tubuh menggunakan energi dan mendukung pengelolaan berat badan.
Kelebihan berat badan merupakan salah satu faktor risiko penting diabetes tipe 2 karena dapat berkaitan dengan terjadinya resistensi insulin.
Riwayat keluarga juga dapat meningkatkan risiko diabetes. Namun, tidak memiliki anggota keluarga dengan diabetes bukan berarti seseorang pasti terbebas dari risiko.
Pola hidup tetap memiliki peran penting dalam kesehatan metabolik.
Salah satu hal yang membuat diabetes perlu diwaspadai adalah gejalanya terkadang tidak terasa jelas pada tahap awal.
Tiga gejala klasik yang sering dikaitkan dengan kadar gula darah tinggi dikenal sebagai 3P, yaitu:
Selain 3P, beberapa tanda lain yang perlu diperhatikan antara lain:
Gejala-gejala tersebut tidak selalu berarti seseorang pasti mengalami diabetes. Namun, jika muncul secara berulang atau bersamaan, sebaiknya lakukan pemeriksaan kesehatan.
Sekilas, hal ini terlihat bertentangan. Salah satu faktor risiko diabetes adalah berat badan berlebih, tetapi penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas juga dapat menjadi salah satu tanda diabetes.
Pada kondisi gula darah tinggi yang tidak terkendali, glukosa tidak dapat dimanfaatkan oleh sel secara optimal sebagai sumber energi. Tubuh kemudian dapat menggunakan cadangan energi lain sehingga berat badan dapat menurun.
Karena itu, penurunan berat badan yang terjadi tanpa perubahan pola makan atau aktivitas yang disengaja sebaiknya tidak diabaikan.
Diabetes memiliki beberapa jenis. Dua jenis yang paling umum dikenal adalah diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2.
Pada diabetes tipe 1, sistem kekebalan tubuh menyerang sel pankreas yang menghasilkan insulin sehingga tubuh mengalami kekurangan insulin yang sangat berat.
Diabetes tipe 1 dapat terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa muda dan membutuhkan terapi insulin.
Diabetes tipe 2 merupakan jenis diabetes yang paling umum. Kondisi ini berkaitan dengan resistensi insulin dan gangguan produksi insulin.
Risikonya dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk berat badan berlebih, kurang aktivitas fisik, pola makan, usia, dan faktor genetik.
Yang perlu dipahami, diabetes tipe 2 juga dapat terjadi pada usia yang relatif muda. Karena itu, anggapan bahwa diabetes hanya merupakan penyakit lansia perlu diluruskan.
Istilah diabetes kering dan diabetes basah cukup sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Namun, istilah tersebut bukan klasifikasi medis diabetes.
Secara medis, diabetes memiliki beberapa tipe, seperti diabetes tipe 1, tipe 2, diabetes gestasional, dan beberapa jenis diabetes lainnya.
Jadi, ketika seseorang menyebut “diabetes kering” atau “diabetes basah”, sebaiknya jangan langsung menganggapnya sebagai jenis diabetes tertentu. Untuk mengetahui kondisi sebenarnya, diperlukan pemeriksaan dan diagnosis oleh tenaga kesehatan.
Ini merupakan salah satu miskonsepsi yang sering muncul.
Penyandang diabetes bukan berarti harus menghilangkan seluruh karbohidrat atau gula dari kehidupannya. Pengelolaan diabetes lebih berfokus pada pola makan seimbang, pengaturan porsi, pemilihan makanan, serta pengendalian asupan gula dan kalori.
WHO juga merekomendasikan pola makan sehat dan membatasi konsumsi produk tinggi gula sebagai bagian dari upaya mencegah maupun mengelola diabetes tipe 2.
Jadi, bukan sekadar pertanyaan “boleh atau tidak makan gula”, tetapi berapa banyak, seberapa sering, dan bagaimana keseluruhan pola makan seseorang.
Justru, aktivitas fisik merupakan bagian penting dalam pencegahan dan pengelolaan diabetes.
Untuk orang dewasa, WHO merekomendasikan setidaknya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang dalam satu minggu, atau sekitar 30 menit selama lima hari. Aktivitas dapat berupa jalan cepat, bersepeda, berenang, maupun aktivitas lain yang sesuai dengan kemampuan.
Namun, bagi penyandang diabetes yang memiliki komplikasi tertentu atau kondisi kesehatan khusus, jenis dan intensitas olahraga sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing dan dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan.
Pertanyaan ini sering muncul setelah seseorang mendapatkan diagnosis diabetes.
Untuk diabetes tipe 2, istilah yang lebih tepat digunakan dalam kondisi tertentu adalah remisi, bukan sembuh. Remisi berarti kadar gula darah dapat kembali berada pada rentang non-diabetes untuk periode tertentu tanpa menggunakan obat penurun gula darah.
Namun, remisi bukan berarti seseorang terbebas dari risiko diabetes selamanya. Kadar gula darah dapat kembali meningkat, terutama jika faktor yang mendasari kembali muncul, seperti kenaikan berat badan.
Karena itu, meskipun kadar gula sudah terkontrol, pola hidup sehat dan pemantauan kesehatan tetap penting.
Pencegahan diabetes tipe 2 dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari yang sederhana.
Tidak perlu menghilangkan nasi atau karbohidrat secara ekstrem. Fokuslah pada pola makan dengan komposisi yang seimbang, memperhatikan porsi, serta memperbanyak pilihan makanan bergizi seperti sayuran, buah, dan sumber protein yang sesuai.
Minuman manis dapat menjadi sumber gula dan kalori yang cukup besar. Karena itu, biasakan memilih air putih atau minuman tanpa tambahan gula sebagai pilihan utama.
Targetkan setidaknya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang setiap minggu. Jika belum terbiasa berolahraga, mulailah secara bertahap sesuai kemampuan.
Menjaga berat badan dalam rentang yang sehat dapat membantu menurunkan risiko diabetes tipe 2.
Jangan menunggu munculnya gejala untuk memeriksa gula darah, terutama jika memiliki faktor risiko diabetes.
Pemeriksaan seperti gula darah puasa dan HbA1c dapat membantu tenaga kesehatan menilai kondisi gula darah. Secara umum, diabetes dapat didiagnosis berdasarkan beberapa kriteria pemeriksaan, termasuk gula darah puasa ≥126 mg/dL atau HbA1c ≥6,5%, dengan ketentuan diagnostik tertentu.
Mendapatkan diagnosis diabetes tentu dapat membuat seseorang merasa kaget, takut, atau bingung. Namun, diabetes bukan berarti seseorang tidak dapat menjalani kehidupan yang aktif dan bermakna.
Hal yang penting dilakukan adalah:
Diabetes dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi, termasuk gangguan mata, ginjal, jantung, pembuluh darah, saraf, dan kaki. Pengendalian gula darah serta pemeriksaan rutin berperan penting dalam menurunkan risiko tersebut.
Selain pengobatan dan perubahan gaya hidup, dukungan sosial juga dapat membantu seseorang menjalani kehidupan bersama diabetes.
Komunitas dapat menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, mendapatkan edukasi, saling memberikan semangat, dan membangun kebiasaan sehat bersama.
Pesan penting dari perbincangan dalam podcast ini adalah bahwa penyandang diabetes tidak harus melihat dirinya sebagai seseorang yang “kalah” karena penyakit. Dengan pengetahuan yang tepat, pengobatan yang sesuai, pola hidup sehat, dan dukungan dari lingkungan, diabetes dapat dikelola.
Jangan menunggu sampai muncul komplikasi. Kenali faktor risikonya, perhatikan gejalanya, dan lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Diabetes bukan lagi penyakit yang hanya perlu diwaspadai oleh lansia. Usia produktif pun dapat mengalaminya, terutama ketika faktor risiko seperti pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan berat badan berlebih tidak dikelola.
Kenali gejala 3P—sering haus, sering lapar, dan sering buang air kecil—serta tanda lainnya seperti penurunan berat badan tanpa sebab, luka yang sulit sembuh, infeksi berulang, dan gangguan penglihatan.
Yang terpenting, diabetes dapat dikelola. Mulailah dari langkah sederhana: makan dengan gizi seimbang, kurangi minuman manis, rutin bergerak, jaga berat badan, dan lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Sehat bukan hanya tentang bebas dari penyakit, tetapi juga tentang memahami tubuh dan mengambil langkah untuk menjaganya.