Perempuan pada usia produktif lebih cekatan daripada laki-laki, dan lebih andal dalam pekerjaan multitasking atau siap menghandle lebih dari satu pekerjaan pada satu waktu. Seorang perempuan sudah terbiasa berperan sebagai “manajer keluarga” disamping mayoritas juga berkarier di luar rumah.
Namun, mungkin anda pernah membaca atau mendengar bahwa kasus demensia lebih banyak terjadi pada perempuan daripada laki-laki? Benarkah demikian?
Faktanya, Alzheimer Association melaporkan bahwa secara statistik di seluruh dunia, perempuan lebih banyak mengalami demensia dibandingkan laki-laki dengan perbandingan 2:1.
Mengapa Demikian?
Hampir seluruh negara di dunia melaporkan bahwa angka harapan hidup lebih tinggi pada perempuan dibandingkan pria. Di Indonesia sendiri, pada tahun 2020 angka harapan hidup perempuan adalah 73,46 tahun, sedangkan laki-laki 69,59 tahun. Usia merupakan salah satu faktor risiko yang paling berpengaruh pada kejadian demensi. Oleh karena angka harapan hidup yang lebih tinggi, secara kumulatif tidaklah mengherankan jika kasus demensia lebih tinggi pada perempuan daripada laki-laki.
Kesehatan perempuan, termasuk kesehatan otak dan fungsi kecerdasan atau kognitifnya sangat berhubungan dengan hormon reproduksi. Estrogen sangat mempengaruhi perkembangan dan fungsi otak pada perempuan. Akibat pengaruh dari hormon ini, perempuan cenderung memiliki kecerdasan memori verbal yang lebih baik daripada laki-laki. Kecerdasan verbal ini dipertahankan paling lama dibandingkan domain kecerdasan lainnya saat seorang perempuan mengalami gangguan fungsi kognitif. Padahal, kebanyakan instrumen pemeriksaan penapisan fungsi kognitif cenderung mengevaluasi memori verbal. Akibatnya, sering terjadi underdiagnosis pada tahap awal gangguan fungsi kognitif terjadi pada seorang perempuan dan akhirnya baru terdiagnosis pada tahap yang lebih lanjut dimana sudah terjadi demensia disertai dengan gangguan mood dan perilaku dan disabilitas.
Estrogen juga merupakan faktor pelindung sistem kardiovaskular bagi perempuan pada usia produktif karena mempengaruhi sistem renin angiotensin yang meregulasi tekanan darah. Saat memasuki masa menopause, kadar estrogen menurun drastis dan efek modulasinya pada sistem renin angiotensin berkurang sehingga risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular meningkat drastis pada perempuan setelah melewati masa menopause. Kesehatan jantung dan pembuluh darah memiliki pengaruh yang kuat terhadap kualitas otak dan fungsi kognitif. Dengan meningkatnya risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular, maka meningkat pula risiko gangguan fungsi kognitif dan demensia. Selain itu, beberapa studi melaporkan bahwa kecepatan kerusakan sel neuron di otak lebih cepat pada perempuan dibandingkan laki-laki yang menderita penyakit kardio-serebro-vaskular seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, kencing manis dan stroke.