Anak usia sekolah (6–12 tahun) sedang berada dalam fase penting pertumbuhan dan perkembangan, baik secara fisik maupun kognitif. Pada tahap ini, mereka membutuhkan asupan nutrisi yang cukup dan seimbang guna mendukung aktivitas harian, fungsi otak, serta mencegah gangguan kesehatan. Kebutuhan gizi ini harus disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, dan aktivitas fisik anak.
Secara umum, kebutuhan gizi anak mencakup dua jenis nutrien, yaitu zat gizi makro dan mikro. Zat gizi makro terdiri dari karbohidrat, protein, dan lemak. Karbohidrat berfungsi sebagai sumber energi utama, dengan kebutuhan sekitar 55–60% dari total energi harian. Sumbernya meliputi nasi, roti, kentang, jagung, dan ubi. Protein berperan dalam pertumbuhan serta perbaikan jaringan tubuh. Anak usia 7–12 tahun membutuhkan 35–49 gram protein per hari yang dapat diperoleh dari telur, ayam, ikan, tempe, tahu, dan susu. Lemak juga penting sebagai sumber energi cadangan dan membantu penyerapan vitamin larut lemak (A, D, E, K), dengan kebutuhan sekitar 25–30% dari total energi harian. Lemak sehat dapat ditemukan pada minyak nabati, alpukat, ikan, dan kacang-kacangan.
Sementara itu, zat gizi mikro diperlukan dalam jumlah kecil namun sangat penting bagi tubuh. Zat besi membantu pembentukan hemoglobin dan mencegah anemia. Anak usia 7–9 tahun membutuhkan 10 mg zat besi per hari, sementara anak laki-laki usia 10–12 tahun memerlukan 8 mg dan anak perempuan 15 mg. Sumber zat besi antara lain hati, daging merah, bayam, dan kacang-kacangan. Kalsium penting untuk pembentukan tulang dan gigi yang kuat, dengan kebutuhan 1000–1300 mg per hari. Sumbernya termasuk susu, keju, yogurt, ikan teri, dan sayuran hijau. Yodium diperlukan untuk mendukung fungsi hormon tiroid dan perkembangan otak, yang dapat diperoleh dari garam beryodium, ikan laut, dan rumput laut. Selain itu, vitamin A bermanfaat untuk kesehatan mata dan daya tahan tubuh, sedangkan vitamin C membantu penyerapan zat besi dan meningkatkan imun. Keduanya dapat ditemukan dalam buah dan sayuran seperti wortel, pepaya, jeruk, dan brokoli.
Air juga memegang peranan penting dalam menunjang fungsi tubuh. Anak perlu mengonsumsi sekitar 1,2–1,5 liter air setiap hari untuk mencegah dehidrasi yang bisa menurunkan konsentrasi belajar.
Kebutuhan energi harian anak usia sekolah juga bervariasi. Berdasarkan AKG 2019, anak laki-laki usia 7–9 tahun membutuhkan sekitar 1.650 kkal/hari, sedangkan perempuan 1.550 kkal. Pada usia 10–12 tahun, kebutuhan meningkat menjadi 2.000 kkal untuk laki-laki dan 1.800 kkal untuk perempuan.
Sayangnya, banyak anak yang melewatkan sarapan atau membawa bekal yang kurang sehat ke sekolah. Padahal, nutrisi yang baik sangat penting untuk meningkatkan konsentrasi, mendukung pertumbuhan, menjaga daya tahan tubuh, dan mencegah risiko obesitas atau malnutrisi. Kekurangan zat gizi mikro seperti zat besi, vitamin A, dan yodium terbukti dapat menurunkan kemampuan belajar anak.
Untuk itu, bekal sekolah yang sehat dan menarik sangat penting. Komponen bekal seimbang mencakup karbohidrat kompleks seperti nasi atau roti gandum; protein dari telur, ayam, tahu, dan tempe; lemak sehat seperti alpukat dan kacang-kacangan; serat dan vitamin dari buah dan sayuran; serta air putih untuk menjaga hidrasi.
Contoh bekal sehat yang praktis antara lain:
Untuk membuat anak lebih menyukai bekal sehat, orang tua bisa melibatkan anak dalam memilih dan menyiapkan makanan, membuat tampilan makanan menarik (misalnya bentuk bento), serta memvariasikan menu setiap minggu. Hindari makanan olahan tinggi gula dan bahan tambahan.
Memberikan nutrisi yang baik serta membiasakan bekal sehat adalah bentuk investasi jangka panjang bagi masa depan anak. Orang tua, guru, dan sekolah memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan makan sehat sejak dini. Dengan pemahaman gizi yang baik dan perencanaan bekal yang kreatif, anak-anak akan lebih siap secara fisik dan mental untuk meraih prestasi belajar yang optimal
Daftar Pustaka