Dalam masa pandemi ini akan berdampak sebagian aktivitas menggunakan internet, dan tidak hanya orang yang bekerja tetapi juga anak sekolah dan mahasiswa dapat mengakses informasi secara cepat atau sebagai metode pembelajaran. Demikian pula dengan aktivitas sosial yang akan menggunakan media internet (sosial media) untuk tetap terhubung dengan orang lain. Laporan data menunjukkan sekitar tiga miliar orang, atau sekitar 40% dari populasi dunia, menggunakan media sosial online dan menghabiskan rata-rata dua jam setiap hari untuk berbagi (share), menyukai (like), men-tweet, dan memperbarui platform ini.
Di dunia sekarang ini, banyak dari kita mengandalkan platform media sosial seperti Facebook, Twitter, Snapchat, YouTube, dan Instagram untuk menemukan dan terhubung satu sama lain. Manusia adalah makhluk sosial. Kita membutuhkan persahabatan dengan orang lain untuk berkembang dalam hidup, dan kekuatan koneksi kita memiliki dampak besar pada kesehatan mental dan kebahagiaan kita. Terhubung secara sosial dengan orang lain dapat meredakan stres, kecemasan, dan depresi, meningkatkan harga diri, memberikan kenyamanan dan kegembiraan, mencegah kesepian, dan bahkan dapat menambah tahun hidup anda. Di sisi lain, kurangnya koneksi sosial yang kuat dapat menimbulkan risiko serius bagi kesehatan mental dan emosional Anda. Demikian pula saat kita bermain game atau menyelesaikan tugas, kita pasti akan berusaha melakukannya sebaik mungkin. Setelah berhasil, otak akan mengeluarkan dosis dopamin dan hormon kebahagiaan lainnya (serotonin), yang akan membuat kita bahagia. Namun jika bermain game sudah menjadi adiksi lain lagi ceritanya. Kondisi adiksi adalah ketergantungan individu secara berlebihan terhadap game online dengan ingin melakukan secara terus-menerus yang pada akhirnya menimbulkan efek negatif pada fisik maupun psikologis individu.
Beberapa contoh pemanfaatan media sosial sebagai lahan pekerjaan. Banyak pekerjaan yang dapat dilakukan dengan menggunakan media social, seperti youtubers, penulis artikel online dan lain sebagainya. Hal ini membukti bahwa media sosial tidak hanya dapat digunakan sebagai media hiburan saja, tetapi juga sebagai ladang pekerjaan masa kini. Hal ini sering dipersepsi salah, yang akan membuat jalan pikir seseorang untuk dapat merubah nasibnya dengan cepat menggunakan media sosial. Dengan melihat keberhasilan para youtuber, blogger, influencer, yang menggunakan sosial media sebagai penghasilan dan pekerjaan utama mereka telah membuat sebagian besar jalan pikir seseorang menjadi terpikat dan ingin menjadi seperti idola mereka untuk dapat menjadi kaya dengan cepat. Yang lebih menakutkan adalah banyak orang mencontoh crazy rich dengan penipuan trading, dugaan tindak pidana judi daring dan penyebaran berita bohong melalui sosial media atau tindak pidana pencucian uang seperti pada kasus yang sedang hangat saat ini telah membuktikan bahwa masyarakat kita sudah jauh dari berpikir logika untuk mendapatkan penghasilan secara wajar.
Sebagian besar orang menikmati untuk dapat tetap terhubung di media sosial, namun penggunaan yang berlebihan ternyata dapat memicu perasaan cemas, depresi, isolasi, dan Fear of Missing Out (FOMO) atau perasaan khawatir tidak mengetahui atau kehilangan informasi, peristiwa, pengalaman, atau keputusan hidup yang dapat membuat hidup seseorang menjadi lebih baik. Kemajuan teknologi tidak sepenuhnya memberikan dampak yang positif di masyarakat, jika kita memandang dari sudut pandang yang salah.
Meskipun masing-masing media sosial memiliki manfaat, penting untuk diingat bahwa media sosial tidak akan pernah bisa menjadi pengganti koneksi manusia di dunia nyata. Dibutuhkan kontak langsung dengan orang lain untuk memicu hormon yang mengurangi stres dan membuat kita merasa lebih bahagia, lebih sehat, dan lebih positif. Ironisnya teknologi yang dirancang untuk mendekatkan orang, menghabiskan terlalu banyak waktu untuk berinteraksi dengan media sosial justru dapat membuat kita merasa lebih kesepian dan terisolasi dan memperburuk masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi.
Pada dasarnya media sosial itu sendiri tidak masalah. Media sosial merupakan pengganti komunikasi aktual dan sosialisasi langsung dengan dunia luar. Memang belum banyak penelitian mengenai dampak pengaruh sosial media untuk kesehatan mental, namun bukti menunjukkan satu arah yaitu media sosial mempengaruhi orang secara berbeda, tergantung pada kondisi dan ciri kepribadian yang sudah ada sebelumnya. Media sosial penuh dengan pengalaman yang akan mengubah suasana hati. Tetapi pada saat yang sama, media sosial jelas membawa segudang manfaat bagi kehidupan kita.
Oleh sebab itu maka pengguna sosial media haruslah digunakan secara bijak, pastikan untuk mengikuti akun-akun yang bisa menyebarkan informasi positif dan bermanfaat. Pastikan juga orang-orang yang mengikuti kamu (follower) merupakan orang terdekat atau terpercaya saja. Menyerap informasi yang baik dan modifikasi dengan cara yang baik untuk dapat diimplementasikan. Cara ini bertujuan untuk melindungi kestabilan emosional dan psikologis agar tetap bebas dalam melakukan interaksi dengan orang tersebut.
Khusus untuk pengguna media sosial yang masih terlalu muda (anak-anak), orang tua dapat memantau penggunaan anak mereka. Pemantauan terhadap limit waktu yang bisa diberikan pada anak pengguna internet, dampingi anak saat bermain game, dorong anak untuk seimbang dalam melaksanakan aktivitasnya dengan lebih berkontak dengan teman di dunia nyata dibandingkan di media maya, monitoring akun sosial medianya, dan jelaskan dampak negatif dari sosial media serta bijak dalam menggunakannya. Yang lebih penting adalah peran orangtua dalam menanamkan nilai moral dan agama pada ananda sedini mungkin, banyak-banyak berkomunikasi dengan anak, dan ajarkan pengalaman hidup yang berharga.