Penyakit Parkinson merupakan suatu penyakit neurodegeneratif terbanyak kedua di seluruh dunia setelah penyakit Alzheimer. Diperkirakan di seluruh dunia, penyakit Parkinson diderita oleh 2-3% dari populasi berusia 65 tahun keatas dengan insidensi dari 5- > 35 kasus baru per 100.000 penduduk setiap tahunnya. Penyakit Parkinson lebih banyak diderita oleh perempuan dibandingkan laki-laki dengan perbandingan 2:1. Kombinasi dari faktor genetik, lingkungan dan gaya hidup berpengaruh pada risiko penyakit ini. Kasus familial Parkinson berhubungan dengan mutasi pada gen LRRK2, PARK7, PINK1, PRKN atau SNCA. Faktor diet, paparan polutan dan pestisida, dan riwayat cedera kepala juga dihubungkan dengan meningkatnya risiko penyakit Parkinson.
Perubahan patologis otak pada penyakit Parkinson ditandai oleh degenerasi atau kerusakan dan kematian sel saraf dopaminergik di substansia nigra dan akumulasi protein intraseluler α-synuclein pada sel saraf di otak. Penumpukkan α-synuclein pada sel saraf dimulai dari batang otak yang kemudian menyebar ke berbagai bagian otak yang lain seiring dengan progresifitas penyakit sesuai dengan klasifikasi patologis menurut Braak-staging (Gambar 1). Proses patologis tersebut tercermin dalam perkembangan gejala penyakit Parkinson yang dikeluhkan oleh pasien mulai dari stadium awal sampai akhir.
Secara umum, masyarakat mengenal penyakit Parkinson sebagai penyakit yang ditandai oleh masalah motorik dan pergerakan dimana pasien akan mengalami kekakuan otot, gerakan menjadi lambat, gangguan keseimbangan dan tremor. Faktanya, perjalanan penyakit Parkinson sudah dimulai jauh sebelum gejala-gejala motorik tersebut dikeluhkan oleh pasien. Sesuai dengan perubahan patologis dari akumulasi α-synuclein pada otak menurut Braak-staging, gejala awal penyakit Parkinson terdiri dari gejala-gejala non motorik yang lebih didominasi oleh gangguan fungsi otonom termasuk gangguan tidur, gejala sensorik dan gangguan psikologis.
Perkembangan penyakit Parkinson dapat dibagi menjadi 4 stadium yaitu stadium prodromal, stadium awal (early-stage), stadium ringan (mild-stage), dan stadium lanjut (late-stage) yang diakhiri dengan kematian.
1. Stadium Prodromal
Stadium ini dapat berlangsung 10-20 tahun sebelum gejala motorik muncul. Gejala yang dikeluhkan bersifat nonspesifik dan dapat menjadi bagian dari gejala penyakit lainnya sehingga seringkali tidak teridentifikasi sebagai bagian dari gejala penyakit Parkinson. Keluhan dapat berupa konstipasi, penurunan fungsi penciuman (hiposmia), kecemasan (ansietas), depresi dan ganggguan tidur. Gangguan tidur yang berasosiasi kuat dengan penyakit Parkinson adalah gangguan tidur REM yang ditandai dengan vokalisasi atau bersuara saat tidur dan/atau pergerakan motorik kompleks yang terjadi saat pasien sedang tidur lelap. Jika ada keluhan tidur seperti ini, maka diagnosis gangguan tidur REM harus dipastikan dengan pemeriksaan polisomnografi.
2. Stadium Awal (Early-Stage)
Munculnya gejala motorik menandakan bahwa pasien telah masuk ke stadium awal penyakit Parkinson. Gejala kardinal atau gejala pokok penyakit Parkinson meliputi “Brad-Pit” yaitu Bradikinesia, Rigiditas, Postural instability (gangguan stabilitas postural), dan Tremor. Manifestasi klinis dari gangguan motorik tersebut biasanya dikeluhkan oleh pasien dan keluarga dalam bentuk tremor pada tangan saat istirahat, berjalan lamban dengan langkah kecil-kecil, kekakuan pada lengan dan tungkai, dan wajah tanpa ekspresi. Selain itu, gejala non-motorik seperti kelelahan (fatique), nyeri, apathy, dan gangguan kognitif ringan (MCI).
Pada umunya pasien mulai berkonsultasi ke dokter pada stadium ini dan diagnosis penyakit Parkinson mulai ditegakkan. Pasien akan mulai mendapatkan terapi, yang dimulai dengan pemberian Levodopa, sehingga gejala-gejala tersebut dapat terkontrol dengan baik.
3. Stadium Ringan (Mild-Stage)
Stadium ini dimulai 10 tahun setelah diagnosis ditegakkan dan pasien mulai mendapatkan pengobatan. Stadium ini ditandai dengan fluktuasi gejala motorik, diskinesia, dan deformitas postur tubuh. Fluktuasi gejala motorik dan diskinesia merupakan efek samping dari pemakaian jangka panjang Levodopa yang disertai dengan progresifitas dari proses patologis yang terjadi di otak. Selain itu gejala non motorik juga berkembang dengan munculnya gangguan berkemih, hipotensi ortostatik dan gejala psikotik terutama halusinasi visual mulai muncul pada tahap akhir dari stadium ringan ini. Pada stadium ini diperlukan adanya penyesuaian dosis Levodopa dan penambahan agen terapi lain untuk dapat mengontrol gejala penyakit Parkinson yang semakin memberat.
4. Stadium Lanjut (Late-Stage)
Pada stadium ini pasien sudah mengalami disabilitas yang ditandai dengan adanya instabilitas postural dan gangguan berjalan. Keduanya menyebabkan pasien sangat berisiko mengalami jatuh (fall). Pasien juga berisiko mengalami malnutrisi karena adanya gangguan dalam fungsi menelan (disfagia). Gangguan kognitif semakin memberat menjadi demensia yang dapat disertai dengan gejala psikotik (behavioral and psychiatric symptoms of dementia/BPSD). Pasien sudah mengalami disabilitas dan memerlukan bantuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri sehari-hari.
dr. Putu Lohita Rahmawati, Sp.N, M.Hlth&MedLaw
Neurolog RSJ dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor
Memperingati World Parkinson Day 11 April 2022