MELEPAS ANAK PERTAMA KALI KE SEKOLAH
Melepas anak untuk pertama kalinya, baik untuk pergi bersekolah atau mengikuti program penitipan anak, bukanlah hal mudah. Proses melepaskan ini bisa menjadi pengalaman traumatik bagi anak maupun orang tua.
Jika orang tua bisa mendampingi anak-anak selama 24 jam, maka anak-anak akan selalu dapat diawasi orang tuanya untuk selalu berada dalam kondisi aman. Tapi, coba dipikirkan kembali, apakah mungkin orang tua mampu mengawasi anak-anak setiap saat dan sepanjang waktu?
Pergi bersekolah adalah tuntutan perkembangan. Fase untuk membangun keterampilan baru di luar rumahnya. Kebutuhan anak untuk membangun kecakapan sosial adalah kemampuan yang harus senantiasa ditumbuhkembangkan, bahkan sejak usia dini.
Apa saja yang dapat dilakukan orang tua sebelum melepas anak bersekolah untuk pertama kalinya?
1. Sampaikan sejujurnya, apa yang akan dijalani anak saat harus bersekolah. Yakinkan bahwa orang tua, anak dan sekolah siap menghadapi ini. Komitmen terhadap kesepakatan yang telah dibuat dengan anak.
2. Validasi perasaan anak. Adalah hal yang wajar jika anak merasa takut, sedih atau cemas saat pertama kali bersekolah. Terima apapun yang dirasakannya dan hindari meremehkan atau mengabaikan perasaan-perasaannya tersebut.
Misalnya "mama tau kamu sedih sekarang, tenang ya, mama akan menjemputmu siang ini dan kamu bisa bermain dan belajar dengan teman-temanmu selama menunggu mama datang"
3. Lakukan secara bertahap saat proses melepas anak bersekolah. Konsultasikan kepada pihak sekolah berapa lama tenggat waktu yang disediakan untuk menemani anak sebelum mereka harus ditinggalkan sepenuhnya di sekolah.
Misalnya : hari pertama orang tua boleh menemani dulu di dalam kelas, hari kedua cukup memantau dari luar kelas, hari ketiga menunggu di luar gerbang sekolah dan selanjutnya melepas anak sepenuhnya dibawah pengawasan guru sekolah.
Bicarakan secara terbuka setiap tahapan ini dengan anak.
4. Konsisten dengan kesepakatan. Ada saatnya dimana orang tua merasa "tidak tega" karena melihat anak menangis atau mengeluh. Percayalah, ini adalah proses belajar yang harus dilalui baik oleh anak maupun orang tuanya. Tetap jalani kesepakatan (misalnya mama tidak akan menemani lagi di hari kelima) walaupun anak mencoba berbagai cara untuk menghindari aktivitas bersekolah
5. siapkan jadwal dan rutinitas untuk dijalani oleh anak. Bukan aturan kaku yang tidak boleh berubah namun setidaknya anak paham bahwa hal-hal tertentu terjadi di waktu yang sama setiap harinya. Ini akan membantu anak untuk lebih cepat menyesuaikan diri.
6. Reframe hal-hal yang membuat anak merasa sedih, takut atau marah sehingga anak mampu membangun persepsi positif atas pengalamannya. Hal ini bisa dilakukan melalui aktivitas menyenangkan yang dilakukan bersama orang tua terkait persepsi anak tentang sekolah.
Misalnya melalui aktivitas :
a) Role playing. Contoh : apa yang mesti dilakukan ketika anak menginginkan sesuatu di sekolah, bermain peran orang tua menjadi anak dan mencontohkan perilaku yang lebih tepat.
b) Menggambar. Contoh : menggambar bersama, hal-hal apa yang disukai anak di sekolah dan bicarakan bersama. Orang tua bisa ikut menggambar, dengan merefleksikan lagi hal-hal yang disukai orang tua sewaktu bersekolah pertama kalinya.
c) Berkisah. Orang tua membagi pengalaman-pengalaman menyenangkan selama bersekolah dan mendengarkan pengalaman anak saat ini. Coba bersama-sama mencari strategi atau cara yang tepat bagi anak untuk mengatasi ketakutannya saat berpisah dengan orang tua.
d) Membacakan buku cerita tentang sekolah. Ini akan membantu anak menyadari bahwa apa yang dirasakannya adalah hal yang dirasakan oleh anak-anak lain. Membacakan cerita juga akan mempererat kelekatan orang tua dan anak sehingga kondisi secure/aman akan lebih mudah dicapai anak saat ia harus kembali bersekolah.
e) Bermain bebas bersama. Hal ini sangat bermanfaat untuk memberikan lebih banyak pengalaman positif setelah anak mengalami sejumlah hal tidak menyenangkan saat pertama kali bersekolah.
7. Orang tua perlu untuk membangun kepercayaan diri dan meyakini bahwa ini adalah proses alamiah yang harus dilalui bersama antara orang tua dan anak. Hindari menyalahkan diri atau mengkritik diri berlebihan hanya karena melihat proses penyesuaian anak yang mungkin berjalan lambat. Selalu terapkan cara serupa walaupun perilaku dan mood anak berubah setiap harinya.
Selamat mencoba,
Miranty Novia Wardhani, S.Psi
RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor