02 May 2019

Artikel : "MARAH"

by admin
tags
1284 views
"MARAH"

Akhir-akhir ini menyaksikan banyak orang yang mudah sekali marah,
orang tua memarahi anak, anak marah pada orang tua, marah di jalanan,
marah di media sosial, marah di panggung politik, dll.
Marah diekspresikan dengan berbagai hal, seperti berteriak, memukul
meja, memukul podium, melakukan perilaku kekerasan pada orang lain,
memaki dalam hati, menuliskan status dengan kata kata kasar atau
berdiam diri saja. "Setiap 1 menit yang kau habiskan untuk marah, kau
kehilangan 60 detik perasaan damai." (Ralph WE)
"Siapa saja bisa marah, itu mudah, tetapi marah pada orang yang tepat
dan pada tingkat yang tepat dan pada waktu yang tepat dan untuk tujuan
yang benar, dan dengan cara yang benar, itu tidak mudah dan tidak
semua orang dapat melakukannya. " (Aristoteles)

Penyebab marah bisa apa saja, biasanya adalah: - rasa kecewa
- malu
- sedih - frustasi
- tidak nyaman
- tidak dihargai
- kesepian
- rasa jijik
- perasaan tidak aman
- penolakan
- merasa terjebak
- rasa tidak dihargai
- rasa takut
- dll

Semuanya itu akan mengaktifkan Amigdala, bagian otak yang mengontrol
emosi. Selanjutnya amigdala --> Hipotalamus --> Pituitary Gland
(hipofisis) --> Adrenal Gland --> Hormon Stres, yaitu :
- Cortisol - Adrenaline
- Noradrenaline

Peningkatan hormon stres Cortisol menyebabkan banyak sel saraf yang
mati terutama di bagian:
- Prefrontal Cortex (PFC), bagian otak ini penting bagi ssorg dalam
membuat suatu keputusan yang baik dan perencanaan tindakan. Gangguan
pada area otak ini menyebabkan orang yang marah sering membuat
keputusan buruk yang kemudian disesali nya.
- Hipokampus, bagian otak yg mengatur memori. Ini menyebabkan orang
yang marah tidak ingat apa yang diucapkan dan dilakukannya.

Peningkatan hormon stres Cortisol akan mengurangi hormon serotonin
dalam otak, yaitu hormon yang membuat ssorg bahagia. Penurunan hormon
serotonin ini akan menyebabkan seseorang menjadi lebih mudah marah,
sensitif, galau, baper dan bisa berujung pada tindakan agresi atau
perilaku kekerasan. Tidak jarang yang kemudian juga menjadi depresi.
Hormon stres yang meningkat karena marah tadi pun bisa mempengaruhi
berbagai sistem organ di dalam tubuh, seperti :
- sistem kardiovaskuler: tekanan darah dan denyut jantung meningkat,
glukosa darah meningkat. Apabila marah tersebut berlangsung lama dan
terus menerus maka gangguan pada sistem kardiovaskuler ini dapat
menyebabkan stroke dan serangan jantung.
- sistem imun akan menurun sehingga menyebabkan orang sering marah
mudah terkena penyakit - tekanan pada bola mata meningkat sehingga
orang yang marah sering merasa migrain atau sakit kepala
- densitas tulang menurun
- sistem pencernaan terganggu
Marah yang terlalu hebat dan terus menerus berulang jelas akan sangat
mengganggu. Lakukan 'Anger Management' (manajemen marah) untuk dapat
mengontrol marah agar tidak terjadi hal yang merugikan. Berkonsultasi
pada profesional kesehatan jiwa seperti Psikiater, Perawat Jiwa,
Psikolog, Dokter umum terlatih akan mempercepat proses pemulihan marah
yang terlalu berlebihan. Beberapa gangguan kejiwaan seperti:
- Gangguan mental dan perilaku akibat penyalahgunaan zat
- Skizofrenia
- Gangguan Bipolar
- Depresi
Juga memiliki tanda dan gejala MARAH yang tidak terkontrol. "Apabila
marah, jangan biarkan matahari terbenam sebelum padam amarahmu"
(Ephesus)


?LaKe?
dr.Lahargo Kembaren,SpKJ
Psikiater, Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial
RS.dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor
Share This Post:
WhatsApp Chat