STOP BULLYING!!!
Apa Itu Bullying ?
‘Bullying’ (perundungan) adalah salah satu bentuk perilaku kekerasan yang dengan disengaja dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang merasa kuat atau berkuasa dengan tujuan menyakiti atau merugikan seseorang atau sekelompok yang merasa tidak berdaya.‘Bullying’ bisa dilakukan dalam bentuk fisik maupun psikologis. Saat ini, banyak anak dan remaja yang menjadi korban bullying baik secara langsung di sekolah, tempat les, lingkungan maupun melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Path, Instagram, dll. Penelitian menunjukkan bahwa anak dan remaja yang menjadi korban bullying sangat rentan terhadap masalah yang serius pada kesehatan jiwa, fisik dan akademiknya.
Cook dkk pada tahun 2010 melaporkan bahwa korban ‘bullying’ lebih sering mengalami gejala depresi, menyakiti diri sendiri, pikiran untuk bunuh diri, dan pencapaian akademik yang rendah. Sedang mereka yang melakukan ‘bullying’ juga tidak lepas dari sikap dan perilaku yang kurang baik seperti : perilaku menentang, sering bolos sekolah, merokok dan memakai narkoba serta perilaku kekerasan lainnya. Mereka yang menjadi korban dan pelaku bullying juga sering mengalami sakit kepala, sakit punggung, sakit perut, masalah tidur, nafsu makan menurun dan sering mengompol (Gini & Pozzoli, 2009).
Bullying dan Gangguan Jiwa
“Bullying” juga merupakan prediktor munculnya gangguan jiwa yang berat lainnya seperti ansietas, depresi dan psikotik. Masa depan generasi penerus menjadi terganggu dengan adanya bullying ini sehingga perlu ada usaha yang taktis dan sistematis untuk melakukan pencegahan dan penanganannya.
Orangtua, komunitas, sekolah, dan profesional di bidang kesehatan jiwa berperan penting dalam melakukan pencegahan dan penanganan masalah ‘bullying’ ini. Komunikasi yang baik dan pola asuh yang tepat yang dilakukan orangtua akan membuat anak dengan leluasa dan nyaman untuk bercerita mengenai hal yang dialaminya sehingga anak tetap bisa tenang menghadapi masalah tersebut.
Banyak anak yang tidak melaporkan bahwa mereka adalah korban perilaku ‘bullying’. Sekolah perlu menerapkan aturan yang tegas untuk mencegah masalah ‘bullying’ ini dengan menerapkan manajemen yang baik terhadap anak yang bertendensi melakukan perilaku agresif. Keluarga dan sekolah perlu melakukan pelatihan dan pendidikan keterampilan hidup (life skills) supaya anak dan remaja memiliki kemampuan dalam mengatasi masalah kehidupan mereka terutama dari teman sebayanya.
Setiap anak yang menjadi korban dan pelaku ‘bullying’ perlu ditangani secara profesional supaya perilaku dan dampak yang ditimbulkan tidak menimbulkan masalah psikologis lanjut di kemudian hari.
“Bullying” Menyakiti Perasaan
Saat seseorang melakukan bullying, baik secara fisik, verbal, sosial, ataupun cyber maka dia telah menyakiti perasaan orang lain. Berbagai perasaan yang tidak nyaman yang bisa terjadi pada mereka yang di bully, di antaranya :
- sedih
- takut
- marah
- khawatir
- bingung
- malu
- sendirian
- lelah
- kacau
- gugup
- tidak berani keluar rumah
- tidak aman
- dll
Semua perasaan negatif ini dapat mengganggu aktivitas atau kegiatan sehari hari. Mari mengenali teman-teman atau orang orang di sekitar kita yg mengalami perasaan tersebut akibat di bully. Mari menjadi teman bagi mereka dan menolongnya karena perasaan tersebut sungguh tidak enak dan mereka butuh teman yang menenangkan.
Jenis-Jenis Bullying
1. Fisik
Contohnya: memukul, mendorong, menendang, menjambak, mencubit dll
2. Verbal
Contohnya: mengancam, memanggil dengan kata yang tidak baik/kasar, berkomentar yang merendahkan, meledek, menjelek jelekkan, dll
3. Sosial
Contohnya : Menjauhi, memberitahu teman untuk tidak berteman dengannya, tidak diajak bergabung dalam kelompok, menceritakan hal yang buruk, rumor, gosip, dll
4. Cyber
Contohnya: mengata-ngatai di media sosial, kata kata kasar, menyindir, dll
Semua jenis bullying tersebut bertujuan untuk menyakiti seseorang.
Berhentilah melakukan bullying karena tidak ada seorang pun yang mau tersakiti.
Mari lawan bullying!
Mengapa Seseorang Melakukan Bullying?
Hampir semua pernah mengalami bullying dalam kehidupannya sebelum usia 20 tahun. Akibat yang ditimbulkan sering kali cukup sulit untuk ditangani, baik fisik maupun mental. Perbedaan yang dimiliki oleh seseorang seringkali dijadikan alasan untuk melakukan bullying, gara gara aneh, memiliki kekurangan, kelemahan, dll. Hal ini dipakai oleh pelaku Bullying untuk mengambil kontrol atas diri kita, menciptakan ketidakamanan (insecurity) dengan tujuan menyakiti kita secara fisik dan emosi. Sebagai korban bullying kita mulai menginternalisasikan hal tersebut dan mulai menyalahkan diri sendiri dengan keunikan yang kita miliki.
Tapi tahukah kita bahwa sebenarnya Perilaku Bullying itu lebih disebabkan karena ada Masalah Psikologis pada pelaku Bullying itu sendiri.
Beberapa penelitian menunjukkan, mereka yang melakukan bullying mengalami hal-hal berikut ini :
1. Stres dan Trauma
Pelaku bullying mengalami stres dan trauma dalam kehidupan mereka, seperti: kehilangan orang yg mereka kasihi, perceraian orang tua, pengalaman hidup yg tidak baik, kekecewaan, dll. Beberapa orang bisa memberikan respon yang positif atas stres dan trauma yg dialaminya, tetapi mereka yg lain melakukan tindakan agresif seperti bullying sebagai respon mereka menghadapi itu.
2. Perilaku Kekerasan di Sekitar
Perilaku kekerasan baik secara verbal atau fisik mudah ditiru oleh seorang anak yang kemudian menjadi karakter dan kepribadiannya di kemudian hari. Seringnya menyaksikan kekerasan di rumah, lingkungan, film, sinetron, games, dll dapat memicu munculnya perilaku kekerasan seperti bullying ini.
3. Harga Diri Rendah (low self esteem)
Untuk menutupi kekurangan yg dimilikinya maka pelaku bullying melakukan tindakan agresif yg seolah olah menunjukkan bahwa mereka lebih hebat, lebih kuat dan lebih popular. Padahal mereka sebenarnya sedang menutupi atau menghindari perhatian orang lain terhadap kelemahan yang mereka miliki. Harga diri yang rendah memicu munculnya perilaku bullying.
4. Pernah Menjadi Korban Bullying
Menjadi korban bullying pada waktu sebelumnya memicu mereka menjadi pelaku bullying saat ini karena dendam yang dirasakan dan melampiaskannya pada orang lain. Ada juga pikiran bahwa dengan melakukan bullying maka mereka akan terhindar menjadi korban bullying yang sebenarnya dirasakan sangat menyakitkan.
5. Kehidupan di Rumah yang Sulit
Para pelaku bullying mengalami kehidupan di rumah yang sulit seperti kesibukan orang tua, kurang kasih sayang, kurang memiliki waktu bersama, perasaan tertolak dan diabaikan. Percekcokan dalam rumah sering terjadi pada pelaku bullying.
Dengan mengetahui hal ini maka kita menyadari bahwa pelaku bullying tersebut sebenarnya
- ingin menunjukkan mereka tangguh, hebat
- mencoba membuat orang lain menyukai mereka
- berusaha menutupi ketakutan, kekhawatiran mereka
- meniru pelaku bullying yang lain
- mereka tidak bahagia
- mereka tidak nyaman dengan hidup mereka
Marilah kita sama sama juga mendampingi para pelaku bullying ini agar tindakan tersebut tidak terulang lagi dan tidak ada korban bullying berikutnya. Bila diperlukan bawalah pelaku bullying ke profesional kesehatan jiwa seperti Psikiater, perawat jiwa dan psikolog untuk mendapatkan penanganan. Karena bila tidak ditangani dengan baik maka pelaku bullying dapat berkembang menjadi masalah atau gangguan kejiwaan dan juga gangguan kepribadian.
dr.Lahargo Kembaren, SpKJ
Psikiater
RS.dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor